Jaksa Agung Venezuela, Tarek William Saab, menegaskan dalam konferensi pers di Caracas pada hari ini, Rabu, 7 Januari 2026, bahwa Presiden Nicolas Maduro adalah pemimpin yang dipilih secara sah sesuai konstitusi nasional. Saab mengecam keras operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penculikan Presiden Maduro dan istrinya, serta menyebut tindakan tersebut sebagai “serangan teroris ilegal terhadap kedaulatan nasional.” Ia memperingatkan bahwa tindakan semacam ini mengancam kedaulatan semua negara di dunia dan mendesak masyarakat internasional untuk menghormati Piagam Hak Asasi Manusia serta segera membebaskan pasangan tersebut. Saab juga meminta hakim Amerika Serikat untuk mengakui kekebalan diplomatik Maduro dan menyatakan bahwa institusi nasional Venezuela tetap menjadi jaminan utama dalam melindungi kedaulatan rakyat.
Di saat yang sama, ketegangan militer pecah di lepas pantai Venezuela. Wall Street Journal melaporkan bahwa Angkatan Laut Rusia mengirimkan sebuah kapal selam untuk mengawal kapal tanker Marinera guna menghalau upaya penyitaan oleh Amerika Serikat. Pihak Moskow secara tegas meminta Washington untuk berhenti mengejar tanker tersebut di wilayah itu. Sementara itu, New York Times mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS mulai menarik klaim mereka sebelumnya mengenai organisasi kriminal “Cartel de los Solis”—sebuah langkah yang dianggap melemahkan salah satu pilar hukum utama yang digunakan pemerintahan Donald Trump untuk menjerat Nicolas Maduro secara hukum.
Di Washington, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengambil kendali atas sumber daya alam Venezuela. Ia mengeklaim bahwa otoritas transisi di Venezuela akan mengirimkan 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi ke Amerika Serikat dengan harga pasar. Trump menegaskan akan mengontrol langsung hasil penjualan minyak tersebut untuk memastikan penggunaannya “bagi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.” Pemerintahan Trump bahkan telah menjadwalkan pertemuan dengan para eksekutif minyak pekan ini untuk membahas strategi peningkatan produksi di Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia mencapai 303 miliar barel.
Dampak dari gejolak politik ini langsung dirasakan oleh pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik tipis menjadi 62,10 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 58,62 dolar AS karena pasar mengantisipasi potensi peningkatan produksi pasca-penculikan Maduro. Meskipun perusahaan Chevron dilaporkan telah melanjutkan ekspor secara lancar ke Amerika Serikat, pelabuhan utama Venezuela masih menghentikan pengiriman ke pelanggan di Asia selama lima hari berturut-turut. Di tengah embargo yang ketat, setidaknya 12 kapal yang terkena sanksi dilaporkan mencoba menembus blokade dengan menggunakan “mode gelap” untuk mengirimkan sekitar 12 juta barel minyak ke Tiongkok.
Terlepas dari embargo yang dinyatakan masih berlaku penuh, Donald Trump mengisyaratkan bahwa selama fase transisi, pelanggan besar Venezuela termasuk Tiongkok akan tetap menerima pasokan minyak. Namun, penghentian ekspor ke Asia dikhawatirkan akan memaksa Petroleos de Venezuela untuk terus memangkas produksi akibat penumpukan stok, yang berisiko memperburuk stabilitas ekonomi domestik Venezuela yang sangat bergantung pada pendapatan minyak sebagai sumber utama pendanaan publik.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



