Skip to main content

Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, memberikan respons tegas pada hari ini, Selasa, 6 Januari 2026, terkait laporan media Israel mengenai pesan penenang yang dikirim Tel Aviv ke Tehran melalui Moskow. Dalam unggahannya di platform X, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan keraguan mendalam atas kredibilitas pesan tersebut dan menegaskan bahwa musuh adalah pihak yang jahat serta pembohong ulung yang tidak dapat dipercaya. Ia mempertanyakan motif Israel yang mengejar gencatan senjata selama “perang 12 hari” namun kemudian mengirim pesan yang mengeklaim ketidakinginan untuk berperang. Menurutnya, kegagalan Israel untuk melancarkan serangan bukan disebabkan oleh perubahan posisi politik mereka, melainkan karena besarnya kekuatan rakyat Iran.

Laporan dari saluran media Israel, Kan, menyebutkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sempat meminta bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut guna meredam ketegangan. Komunikasi ini dilaporkan terjadi melalui serangkaian panggilan telepon antara Netanyahu dan Putin dalam periode terakhir. Namun, upaya diplomasi lewat pihak ketiga ini tampaknya tidak melunakkan sikap Tehran yang tetap waspada terhadap potensi agresi.

Sejalan dengan pernyataan pemimpin tertinggi, Sekretariat Dewan Pertahanan Iran juga mengeluarkan peringatan keras terhadap ancaman Israel dan Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya pada hari Selasa, pihak Sekretariat menegaskan bahwa kelanjutan perilaku permusuhan terhadap Iran akan dihadapi dengan respons yang teguh, proporsional, dan menentukan. Iran menekankan bahwa kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah negara adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Lebih lanjut, Iran menyatakan bahwa dalam kerangka hak pembelaan diri yang sah, mereka tidak akan menunggu serangan terjadi, melainkan akan memasukkan indikator ancaman yang nyata ke dalam persamaan keamanan nasional mereka.

Ketegangan ini semakin memanas setelah Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak akan membiarkan Iran membangun kembali program rudal balistiknya, sebuah ancaman yang sebelumnya juga dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di sisi lain, situasi domestik Iran juga menjadi tantangan tersendiri dengan adanya gelombang protes akibat tingginya biaya hidup yang bermula di Tehran pada 28 Desember dan meluas ke 25 provinsi. Pihak berwenang menuduh adanya elemen perusak yang mengeksploitasi protes damai tersebut untuk melakukan sabotase terhadap fasilitas publik dan militer guna menciptakan kekacauan.

Sebagai bagian dari langkah pengamanan internal, televisi nasional Iran mengumumkan bahwa otoritas di Provinsi Mazandaran telah meringkus jaringan mata-mata beranggotakan 10 orang yang diduga dikendalikan oleh tokoh separatis pelarian di Jerman. Sementara itu, kepolisian Tehran juga melaporkan keberhasilan intelijen dalam mengungkap tempat persembunyian sejumlah tersangka yang terlibat dalam kerusuhan di ibu kota selama beberapa hari terakhir. Serangkaian penangkapan ini mempertegas pernyataan Dewan Pertahanan Iran bahwa musuh-musuh lama Iran terus berupaya memecah belah dan merusak kedaulatan negara melalui kebijakan ancaman serta intervensi yang bertentangan dengan hukum internasional.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Times of Israel