Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menegaskan bahwa intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela telah merusak arsitektur keamanan internasional. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar Inggris The Guardian, Volker menyatakan bahwa tindakan tersebut melemahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai satu-satunya mekanisme yang ada untuk mencegah pecahnya perang dunia ketiga. Ia menekankan bahwa intervensi militer ini merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Venezuela dan Piagam PBB, yang pada akhirnya membuat setiap negara di dunia menjadi kurang aman.
Volker juga menyatakan ketidakpuasannya yang mendalam terhadap reaksi beberapa negara yang mencoba membenarkan intervensi Amerika Serikat dengan alasan situasi hak asasi manusia di Venezuela. Menurutnya, penggulingan rezim sering kali justru memicu pelanggaran HAM yang lebih serius, kekacauan berbahaya, dan konflik kekerasan yang berkepanjangan. Ia memperingatkan komunitas internasional untuk berhenti mengeluarkan pernyataan kosong tentang hak asasi manusia dan mulai membela hukum internasional, atau dunia akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan. Sementara itu, putra Presiden Maduro menyerukan solidaritas internasional demi menjamin kepulangan ayahnya yang diculik.
Senada dengan kekhawatiran tersebut, Presiden Kolombia Gustavo Petro melalui unggahan di platform X pada hari ini, Rabu, 7 Januari 2026, mengkritik tajam doktrin kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Petro menilai bahwa Trump berupaya mengubah republik-republik di Amerika Latin menjadi koloni melalui pendekatan ekspansionis yang ia bandingkan dengan tindakan Adolf Hitler dan Nazi Jerman. Ia menyebut Doktrin Monroe yang diterapkan saat ini mirip dengan konsep “ruang hidup” (Lebensraum) yang memicu perang dunia di masa lalu. Sebagai bentuk perlawanan, Petro menyatakan kesiapannya untuk memegang senjata guna menghadapi Amerika Serikat.
Hubungan antara Washington dan Bogota mencapai titik didih sejak Donald Trump menjabat, di mana media sosial menjadi arena saling serang antar kedua pemimpin. Gustavo Petro sebelumnya telah menyerukan aliansi negara-negara Amerika Latin untuk menghalau serangan Amerika Serikat di masa depan. Menanggapi hal tersebut, Donald Trump meluncurkan serangan pribadi dengan menuduh Petro terlibat dalam produksi narkotika dan secara eksplisit mengancam akan melakukan operasi militer di Kolombia, serupa dengan apa yang dilakukan di Venezuela.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru mengumumkan ambisinya untuk mempercepat produksi senjata secara masif. Dalam pidatonya di hadapan anggota Partai Republik di DPR, ia menyatakan akan bertindak sangat tegas terhadap perusahaan-perusahaan dalam kompleks industri militer Amerika Serikat agar memproduksi senjata lebih cepat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun sekutu. Donald Trump, yang sebelumnya memuji bom-bom beratnya sebagai sesuatu yang “luar biasa,” juga terus memberikan dukungan penuh kepada Netanyahu atas penggunaan senjata Amerika Serikat dalam konflik di Palestina yang telah menelan korban jiwa hingga 100.000 orang.
Langkah percepatan persenjataan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, pada hari Senin lalu yang menyebut bahwa dunia telah memasuki era baru konfrontasi kekuatan besar. Saat berbicara di hadapan pembuat kapal di Virginia, Hegseth menjelaskan bahwa perubahan nama departemennya dari Pertahanan menjadi Departemen Perang bukan berarti mereka mencari konflik. Namun, ia menegaskan bahwa demi menjamin perdamaian, Amerika Serikat harus siap untuk mencegah perang dan, jika perlu, memenangkannya secara telak.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



