Serangan militer besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, memicu gelombang kritik tajam dari para pejabat tinggi dan anggota Kongres di Washington. Penolakan ini muncul di tengah ketidakpastian mengenai dasar hukum operasi tersebut serta kekhawatiran mendalam akan jatuhnya korban jiwa di pihak personel Amerika Serikat akibat balasan masif dari Teheran.
Anggota DPR dari faksi Republik, Thomas Massie, secara tegas menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan perang yang tidak diizinkan oleh Kongres.” Senada dengan itu, Senator Demokrat Ruben Gallego mengkritik keras kebijakan perubahan rezim yang dianggapnya merugikan rakyat kecil. Ruben Gallego menekankan bahwa anak-anak dari kelas pekerja tidak seharusnya membayar harga mahal untuk sebuah perang yang alasan maupun pembenarannya tidak pernah dijelaskan secara transparan kepada rakyat Amerika Serikat. Menurutnya, dukungan terhadap gerakan demokrasi di Iran bisa dilakukan tanpa harus mengirim tentara ke medan kematian.
Kritik teknis dan prosedural juga datang dari Senator Jack Reed, tokoh senior Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat. Jack Reed mengecam pemerintahan Donald Trump karena gagal memberikan pengarahan intelijen yang nyata kepada Kongres sebelum serangan dimulai. Ia menyoroti bahwa dalam pidato kenegaraan terpanjang dalam sejarah baru-baru ini, presiden hampir tidak menyebutkan Iran secara mendetail dan tidak menentukan target operasi. Tanpa dasar logika dan intelijen yang kuat, Jack Reed menilai tindakan tersebut sangat sulit untuk dibenarkan secara politik maupun militer.
Sementara itu, Senator Tim Kaine mengutuk serangan udara tersebut dengan menyebutnya sebagai tindakan yang “berbahaya, tidak perlu, dan konyol.” Ia menyatakan bahwa serangan ini adalah kesalahan besar yang mengancam nyawa staf kedutaan serta personel militer Amerika Serikat di seluruh kawasan Timur Tengah. Tim Kaine mendesak Senat untuk segera berkumpul kembali guna melakukan pemungutan suara mengenai resolusi wewenang perang demi mencegah penggunaan kekuatan lebih lanjut terhadap Iran, serta menuntut setiap senator untuk secara resmi menyatakan posisi mereka atas tindakan gegabah ini.
Di tingkat militer, laporan CNN mengungkapkan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Cain, sebenarnya didera ketidakpastian mengenai dampak jangka panjang dari serangan ini. Meskipun ia telah menyusun opsi serangan selama berminggu-minggu, Jenderal Dan Cain dilaporkan tidak mampu memprediksi hasil dari operasi perubahan rezim dalam pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih. Ia juga menyatakan keprihatinan mendalam mengenai skala, kompleksitas, serta potensi jatuhnya korban di pihak Amerika Serikat dalam misi sebesar ini.
Kekhawatiran tersebut terbukti ketika Teheran meluncurkan balasan simultan terhadap hampir seluruh pangkalan Amerika Serikat di Teluk, kecuali pangkalan yang berada di Oman. Seorang pejabat Amerika Serikat mengakui bahwa Washington belum pernah menghadapi serangan simultan seluas ini terhadap pangkalan luar negerinya di masa lalu. Meskipun Donald Trump bersikeras bahwa operasi ini dilakukan untuk melenyapkan ancaman mendesak, perpecahan di dalam negeri dan balasan militer yang merata di Timur Tengah kini menempatkan posisi Amerika Serikat dalam situasi keamanan yang sangat rawan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



