Skip to main content

Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengonfirmasi pada hari ini, Selasa, 6 Januari 2026, melalui sebuah unggahan di media sosial X bahwa kekuatan rakyat Iran merupakan faktor utama yang memaksa musuh untuk menuntut penghentian perang dua belas hari. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa meskipun musuh dikenal memiliki sifat jahat, licik, dan pembohong, ketangguhan rakyat Iran-lah yang pada akhirnya membuat pihak lawan menyerah, mulai dari menuntut gencatan senjata hingga mengirim pesan yang mengeklaim tidak ingin melanjutkan peperangan.

Sejalan dengan penegasan tersebut, Dewan Pertahanan Republik Islam Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras meningkatnya retorika ancaman serta intervensi asing terhadap kedaulatan negara. Dalam pernyataan yang dirilis pada hari ini, Selasa, Dewan Pertahanan menekankan bahwa musuh-musuh bebuyutan Iran tengah menjalankan pendekatan terstruktur untuk memecah belah bangsa dan merusak identitas nasional melalui pernyataan yang melanggar prinsip hukum internasional. Pihak dewan menegaskan bahwa pola intimidasi ini tidak akan dibiarkan tanpa respons, mengingat musuh-musuh tersebut secara eksplisit bertanggung jawab atas tewasnya perempuan dan anak-anak Iran dalam berbagai insiden sebelumnya.

Lebih lanjut, Dewan Pertahanan memperingatkan bahwa keamanan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Iran merupakan garis merah yang tidak dapat ditawar. Berlandaskan persatuan nasional dan kemampuan pencegahan yang komprehensif, Republik Islam Iran menyatakan kesiapannya untuk memberikan balasan yang proporsional dan terukur terhadap setiap bentuk gangguan stabilitas. Dalam kerangka pembelaan diri yang sah, Iran tidak hanya akan bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi juga menjadikan indikator ancaman yang nyata sebagai bagian integral dari kalkulasi keamanan nasional mereka. Respons tegas ini disebut sebagai konsekuensi logis yang harus ditanggung oleh para perencana operasi permusuhan, sesuai dengan prinsip bahwa setiap pelanggaran akan dibalas dengan tindakan yang setimpal.

Nada optimisme terhadap ketahanan nasional juga disuarakan oleh jajaran pimpinan pemerintahan dan militer. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengkritik balik negara-negara pelaku genosida yang kerap berbicara tentang hak asasi manusia di Iran, sembari menuding mereka tengah mengincar sumber daya alam Iran dengan penuh ketamakan. Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi merespons ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menyatakan bahwa mengulangi kebijakan yang gagal hanya akan membawa kegagalan baru. Sementara itu, dari sisi kekuatan tempur, Asisten Koordinator Angkatan Darat Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, memastikan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini telah mencapai puncak kesiapan operasionalnya.

Kondisi geopolitik ini turut menjadi sorotan dalam laporan media, termasuk program Panorama yang mengulas ketegasan Sekretariat Jenderal Dewan Pertahanan Iran dalam menghadapi perilaku agresif negara-negara tertentu. Di saat yang sama, program Israeli Eye menyoroti bagaimana media Ibrani memantau dampak agresi Amerika Serikat di Venezuela serta manuver militer tentara pendudukan Israel di Kiryat Shmona yang berbatasan dengan Lebanon selatan. Para analis dalam program tersebut menilai bahwa eskalasi media yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat merupakan bagian dari perang psikologis untuk mematahkan kemauan rakyat Iran. Namun, peneliti hubungan internasional Dr. Ali Matar dalam program tersebut mengingatkan bahwa kampanye tersebut sering kali meremehkan kekuatan nasionalisme Iran yang justru semakin solid saat menghadapi ancaman dari luar.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Hill Times