Skip to main content

Militer Israel terus melakukan pelanggaran sistematis terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya berlaku di Jalur Gaza melalui serangkaian serangan darat, udara, dan artileri. Laporan terbaru menunjukkan bahwa eskalasi militer mencakup hampir seluruh wilayah kantong tersebut. Di Gaza Utara, kendaraan militer Israel dilaporkan merangsek masuk ke Jabalia, sementara jet tempur meluncurkan serangan udara di berbagai titik strategis. Di pusat sektor Gaza, artileri menggempur lingkungan yang berdekatan dengan yellow line di timur Kota Gaza, dibarengi dengan serangan udara di timur Deir al-Balah dan penembakan intensif di timur al-Bureij.

Kondisi serupa terjadi di wilayah selatan, di mana wilayah timur Khan Yunis menjadi sasaran penembakan kendaraan tempur dan serangan udara. Di wilayah pesisir Mawasi Rafah, yang selama ini menjadi tempat pengungsian sipil, pasukan pendudukan melepaskan tembakan intensif di area Al-Alam. Pelanggaran ini tidak hanya terbatas pada tindakan militer fisik, tetapi juga mencakup penghambatan bantuan kemanusiaan. Israel dilaporkan membatasi aliran bantuan dasar dan menghalangi kerja institusi kemanusiaan internasional, yang secara langsung memperburuk krisis kelaparan dan kesehatan bagi penduduk Gaza yang masih bertahan.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza mengungkapkan dampak mengerikan dari pelanggaran yang terjadi sejak gencatan senjata resmi dimulai pada 11 Oktober 2025. Terhitung hingga awal Januari 2026, setidaknya 422 warga Palestina telah gugur dan 1.189 lainnya terluka akibat serangan pasca-kesepakatan tersebut. Secara keseluruhan, total korban jiwa sejak dimulainya perang pada Oktober 2023 kini telah mencapai angka tragis 71.388 martir dan 171.269 orang terluka. Di sisi lain, militer Israel mencatat bahwa tahun 2025 menjadi salah satu periode paling berdarah bagi pasukan mereka dengan kehilangan 151 personel, di mana 91 di antaranya tewas di zona tempur Gaza.

Sementara Gaza terus membara, ketegangan juga meningkat tajam di Tepi Barat. Pada Selasa dini hari, pasukan pendudukan menyerbu sejumlah kota dan desa di Kegubernuran Nablus, termasuk Al-Lubban Al-Sharqiya, Madama, Beita, dan Burin. Militer melakukan penggeledahan rumah secara paksa, merusak properti warga, dan melakukan penahanan sewenang-wenang. Di Qalqilya, seorang pemuda bernama Walid Sweilem ditangkap setelah rumahnya digeledah secara agresif. Intensifikasi kejahatan di Tepi Barat, yang mencakup pembunuhan, penghancuran rumah, dan ekspansi pemukiman ilegal, menunjukkan pola penghancuran sistematis yang berjalan beriringan dengan operasi militer di Jalur Gaza.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Jerusalem Post