Skip to main content

Pemimpin gerakan Ansar Allah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan dalam pidatonya pada hari Minggu, 1 Maret 2026, bahwa tujuan utama dari agresi Amerika-Israel terhadap Iran adalah untuk memungkinan musuh Israel mengendalikan kawasan secara penuh dengan menyingkirkan hambatan terbesar yang menghalangi ambisi tersebut. Beliau menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Iran, institusi resmi, Garda Revolusi Mujahid, dan seluruh umat Islam atas syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurutnya, sang pemimpin menjadi target karena peran globalnya dalam mendukung kaum tertindas dan mempersembahkan model Islam beradab yang bebas dari kendali tirani. Al-Houthi menekankan bahwa pilihan untuk tunduk kepada tirani Amerika-Israel berarti kehilangan harga diri dan agama, sehingga keteguhan dalam menghadapi agresi adalah satu-satunya pilihan bagi umat.

Di tengah kecamuk perang, situasi kemanusiaan di ibu kota Teheran kian memprihatinkan akibat serangan yang secara sistematis menyasar fasilitas sipil pada Minggu malam, 1 Maret 2026. Koresponden melaporkan bahwa jet tempur Amerika-Israel mengebom Rumah Sakit “Gandhi” di timur Teheran, sebuah tindakan yang disebut sebagai tantangan terang-terangan terhadap seluruh konvensi internasional. Kantor berita Fars melaporkan momen memilukan saat para perawat berusaha mengevakuasi bayi-bayi yang baru lahir di tengah dentuman bom yang menghantam gedung rumah sakit tersebut. Selain itu, markas kepolisian di kota Rey, wilayah selatan ibu kota, serta kompleks perumahan penduduk di sekitarnya turut menjadi sasaran pemboman. Gedung Radio dan Televisi Iran juga dilaporkan mengalami kerusakan setelah menjadi target serangan udara terbaru di Teheran.

Tragedi ini juga menyentuh lingkaran dalam kepemimpinan Iran, di mana Zahra Mohammadi Golpayegani, cucu perempuan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang baru berusia 14 bulan, dinyatakan syahid dalam agresi Amerika-Israel tersebut. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Iran mengonfirmasi bahwa jumlah siswi yang gugur dalam serangan di Sekolah Minab, Provinsi Hormozgan, telah meningkat menjadi 165 orang. Laporan dari Nournews juga menambahkan adanya korban jiwa di kota Lamerd, Provinsi Fars, di mana tiga siswa dan seorang guru pendidikan jasmani tewas setelah sebuah gedung olahraga dihantam bom. Serangkaian serangan terhadap situs sipil ini—termasuk sekolah, stadion, dan tempat umum lainnya—menunjukkan pola serangan agresor yang menyasar moral rakyat sipil.

Menanggapi kondisi darurat nasional ini, Kepala Polisi Iran, Brigadir Jenderal Ahmad Reza Radan, menyatakan pada hari Minggu, 1 Maret 2026, bahwa negara saat ini berada dalam “kondisi waktu perang”. Beliau menegaskan bahwa dinas keamanan akan bertindak sangat keras terhadap siapa pun yang menerima perintah dari musuh untuk mengacaukan situasi internal. Seluruh pasukan penjaga perbatasan telah ditempatkan pada tingkat kewaspadaan penuh dengan instruksi untuk menindak tegas setiap pergerakan yang mencurigakan. Radan menekankan bahwa musuh dan antek-anteknya sedang berupaya merusak persatuan rakyat Iran, namun upaya tersebut akan dipatahkan dengan keteguhan angkatan bersenjata yang kini didukung oleh dewan fuqaha dalam menjalankan mandat pertahanan kedaulatan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Yemen Monitor