Skip to main content

Kisah Abdullah Barghouti kembali mencuat—kisah seorang tahanan yang hidupnya berubah menjadi legenda perjuangan, setelah bertahun-tahun terkurung di sel isolasi Israel. Ia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan perlawanan Palestina, sehingga Israel menghukumnya dengan ribuan tahun penjara dan isolasi berkepanjangan.

Barghouti dikenal sebagai “insinyur” Hamas, salah satu pemimpin paling penting dari sayap militer gerakan tersebut di Tepi Barat, sekaligus ahli bahan peledak kelas tinggi setelah Yahya Ayyash. Israel menuduhnya bertanggung jawab atas serangkaian operasi yang menewaskan 66 warga Israel dan melukai 500 lainnya, termasuk serangan terhadap restoran Sbarro di Yerusalem pada 2001.

Sebelum penangkapannya, Barghouti memimpin program pelatihan khusus bagi generasi muda Brigade al-Qassam—mempersiapkan mereka menjadi pemimpin tahap perlawanan berikutnya. Ia mengajari para pemuda membuat bahan peledak, membongkar senjata, merakit granat, serta menggunakannya dalam operasi lapangan.

Barghouti juga membentuk sel-sel kecil yang melakukan operasi peledakan terhadap pasukan pendudukan di Yerusalem.

Pada Maret 2003, ia ditangkap dan dijatuhi 67 hukuman seumur hidup, salah satu vonis terberat yang pernah dijatuhkan kepada tahanan Palestina. Empat tahun kemudian, namanya masuk dalam daftar kandidat pertukaran tahanan terkait kasus Gilad Shalit, namun Israel secara keras menolak pembebasannya.

Selama dalam tahanan, Barghouti menulis beberapa buku, di antaranya “Pangeran Bayangan” dan “Insinyur di Jalan Perlawanan”. Di balik jeruji besi, ia tetap menjadi simbol keteguhan bagi rakyatnya.

Hingga hari ini, ia masih mengalami bentuk-bentuk penyiksaan fisik dan psikologis paling keras di Penjara Gilboa—upaya yang digambarkan para aktivis sebagai proses penghancuran tubuh dan jiwa yang berlangsung perlahan terhadap seorang pejuang yang tidak pernah menyerah.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV