Skip to main content

Kementerian Kesehatan Israel mengumumkan bahwa jumlah korban cedera di pihak mereka telah meningkat menjadi 8.771 orang sejak awal pecahnya perang melawan Iran pada 28 February 2026. Pembaruan data ini diterbitkan setelah pihak otoritas kesehatan mencatat adanya 19 kasus cedera baru yang masuk dalam waktu 24 jam terakhir, menegaskan terus berlanjutnya kerugian personel di kubu pasukan pendudukan.

Dalam rincian data tersebut, Kementerian Kesehatan Israel menunjukkan bahwa total korban cedera yang dirawat di rumah sakit khusus dari front utara saja sejak masa gencatan senjata dengan Iran pada 8 April lalu telah mencapai 870 orang. Sementara itu, untuk periode pasca-gencatan senjata dengan Lebanon yang dimulai pada 17 April lalu, tercatat sebanyak 452 korban cedera dari front utara telah dilarikan ke berbagai rumah sakit Israel. Angka-angka ini menjadi indikator nyata bahwa eskalasi di lapangan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kondisi ini diperparah oleh pengakuan bahwa militer Israel masih belum menemukan solusi efektif apa pun untuk mengatasi ancaman besar yang ditimbulkan oleh pos-pos pertahanan Hizbullah di sepanjang perbatasan Lebanon. Pasukan Hizbullah terus melancarkan operasi militernya demi membela kedaulatan negara dan membalas setiap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel, yang secara konsisten menimbulkan kerugian materi maupun korban jiwa di pihak pasukan pendudukan.

Mengenai dampak taktis di medan tempur, saluran televisi Israel Kan mengakui bahwa sebagian dari rencana, operasi, dan misi ofensif yang seharusnya dieksekusi oleh militer kini terpaksa dibatalkan atau ditunda akibat ancaman fatal dari drone bunuh diri Hizbullah. Penilaian internal di dalam tubuh militer Israel bahkan menyebutkan bahwa armada drone bunuh diri milik Hizbullah telah berhasil menghambat sekitar 70% ruang gerak dan kebebasan beroperasi pasukan Israel di wilayah Lebanon Selatan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Voice of Emirates