Perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah) meningkatkan skala operasinya secara signifikan pada Jumat dini hari, 10 April 2026, sebagai kelanjutan respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh militer Israel. Unit tempur perlawanan melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi yang menyasar titik pengerahan tentara pendudukan di berbagai lokasi, termasuk pusat penahanan Khiam, wilayah Wata al-Khiam, dan kota Rashaf menggunakan salvo roket serta pesawat nirawak. Selain itu, Hizbullah juga menggempur halaman situs militer Marj, barak “Branit”, pemukiman “Shlomi”, serta posisi artileri di utara pemukiman “Goren” dan barak “Ya’ra” dengan kawanan drone serang dan roket, menegaskan bahwa operasi ini tidak akan berhenti hingga agresi Amerika-Israel terhadap rakyat Lebanon berakhir sepenuhnya.
Gempuran perlawanan kali ini menjangkau target-target strategis di kedalaman wilayah pendudukan, di mana media Israel melaporkan peluncuran rudal jarak jauh dari Lebanon yang menyasar kawasan pesisir Ashdod. Ledakan hebat dilaporkan mengguncang pusat wilayah Palestina yang diduduki, memicu sirene peringatan yang meluas hingga ke bagian selatan. Akibat serangan ini, aktivitas lepas landas dan pendaratan di Bandara Internasional Ben Gurion dilaporkan mengalami gangguan serius. Di wilayah perbatasan, bentrokan sengit antara pejuang perlawanan dan pasukan pendudukan terkonsentrasi di pinggiran Bint Jbeil, Ainata, Mays al-Jabal, dan Maroun Ras, sementara pemukiman Avivim menjadi sasaran roket untuk ketiga kalinya dalam waktu singkat.
Di wilayah utara, kota Kiryat Shmona dan permukiman di Lembah Hula berada dalam kondisi lumpuh total selama beberapa jam terakhir. Media Israel mengonfirmasi sedikitnya 25 roket menghantam Kiryat Shmona dalam dua jam, mengakibatkan kerusakan langsung pada sebuah bangunan dan memaksa ribuan pemukim berlindung di bunker bawah tanah. Sirene juga terus meraung di Metula, Misgav Am, dan Galilea Atas akibat kekhawatiran infiltrasi drone besar-besaran. Koresponden lapangan mengamati gelombang peluncuran roket yang masif dari Lebanon Selatan sebagai jawaban atas ketegaran rakyat Lebanon yang darah para martirnya ditegaskan tidak akan terbuang sia-sia.
Eskalasi besar ini merupakan dampak langsung dari sikap keras kepala Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang secara sepihak mengklaim bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan antara Iran dan Amerika Serikat “tidak mencakup Lebanon”. Padahal, kerangka kerja Islamabad secara eksplisit menuntut penghentian permusuhan di seluruh front sebagai syarat utama. Dengan berlanjutnya pembantaian warga sipil di Lebanon dan pelanggaran kesepakatan oleh pihak penjajah, Hizbullah kembali menegaskan komitmennya untuk mengubah medan tempur menjadi neraka bagi pasukan pendudukan hingga keamanan nasional Lebanon dan kedaulatan front perlawanan diakui sepenuhnya dalam setiap perjanjian politik mendatang.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Times of Israel



