Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan bahwa tidak ada serangan yang dilakukan terhadap negara-negara Teluk dalam beberapa jam terakhir. Menanggapi laporan media mengenai serangan drone yang menembus wilayah udara Kuwait dan menargetkan fasilitas vital pada Kamis malam, IRGC menegaskan bahwa jika laporan tersebut benar, maka Israel berada di balik aksi tersebut guna menyabotase situasi. Garda Revolusi menekankan bahwa angkatan bersenjata Iran selalu bertanggung jawab atas setiap serangan yang mereka lakukan secara transparan dan berani, serta tidak memiliki kaitan dengan apa yang dipublikasikan media terkait insiden di Kuwait baru-baru ini. Sementara itu, Angkatan Laut Garda Revolusi menyatakan bahwa semua pihak, baik kawan maupun lawan, telah menyadari bahwa pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki fase baru dalam dua hari terakhir, sebuah langkah yang didukung oleh arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk terus mengembangkan manajemen jalur strategis tersebut.
Iran menegaskan komitmennya terhadap perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan sejak 8 April dan terus memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi meskipun terjadi pelanggaran oleh pihak Amerika Serikat dan Israel melalui agresi yang terus berlanjut di Lebanon. Namun, Teheran menetapkan syarat mutlak bahwa partisipasi mereka dalam perundingan di Islamabad bergantung sepenuhnya pada penghentian total serangan terhadap Lebanon. Sumber informasi dari Kantor Berita Fars memperkuat posisi ini dengan menyatakan bahwa isu gencatan senjata di Lebanon adalah prasyarat yang tidak dapat diubah bagi Iran untuk memasuki proses negosiasi baru mana pun. Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam telah meminta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif untuk memastikan secara resmi bahwa gencatan senjata di kawasan harus mencakup Lebanon guna mencegah terulangnya pembantaian warga sipil di Beirut dan wilayah lainnya yang telah memakan ratusan korban jiwa.
Dari pihak Washington, Presiden Donald Trump menyatakan optimisme kuat kepada NBC News mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran, yang menurutnya sudah dalam jangkauan. Trump memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka konsekuensinya akan sangat menyakitkan. Dalam konteks ini, seorang pejabat senior administrasi Amerika Serikat mengungkapkan bahwa dalam panggilan telepon pada hari Rabu, Trump telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan udara guna menjamin keberhasilan negosiasi mendatang. Trump mengklaim bahwa Netanyahu akan menangani situasi ini dengan tenang dan menyebut bahwa pihak Israel mulai mengurangi operasi militer mereka di Lebanon, meskipun kecaman internasional terhadap kekerasan di lapangan terus meningkat.
Dukungan terhadap gencatan senjata juga datang dari Inggris, di mana Menteri Pertahanan John Healey menyatakan bahwa London menyambut baik penghentian permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat serta berharap kesepakatan tersebut dapat bertahan. Healey menegaskan kesiapan Inggris untuk berperan dalam memperkuat perjanjian ini, namun di saat yang sama ia mengecam eskalasi yang terjadi di Lebanon dan menuntut agar konflik Israel-Lebanon secara resmi dimasukkan ke dalam persyaratan gencatan senjata global. Tekanan ini sejalan dengan kritik luas dari negara-negara Eropa lainnya terhadap serangan Israel di Lebanon yang telah mengakibatkan martirnya ratusan warga sipil, menekankan perlunya stabilitas menyeluruh di seluruh kawasan Timur Tengah demi keberhasilan perundingan yang dijadwalkan di Islamabad pada Jumat, 10 April 2026.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: New York Times



