Laporan terbaru dari The Wall Street Journal pada hari Minggu, 1 Maret 2026, mengungkapkan kekhawatiran mendalam di internal militer Amerika Serikat mengenai percepatan penipisan stok rudal pencegat dan amunisi pertahanan udara. Amerika Serikat kini dilaporkan tengah berpacu dengan waktu untuk menghancurkan kapabilitas rudal dan drone Iran sebelum mereka kehabisan sumber daya pertahanan yang diperlukan untuk membendung balasan Teheran. Jenderal tertinggi militer AS telah memperingatkan Presiden Donald Trump mengenai risiko besar dari serangan berkepanjangan terhadap Iran, terutama terkait klasifikasi stok amunisi yang kian menipis. Peneliti dari Stimson Center, Kelly Greco, menyebutkan bahwa tantangan utama Washington adalah laju penggunaan rudal seperti pencegat pertahanan udara dan rudal jelajah Tomahawk yang jauh lebih cepat daripada kemampuan produksinya. Kondisi serupa juga dialami oleh entitas Zionis yang dilaporkan mengalami krisis stok rudal pencegat Arrow 3 serta rudal balistik peluncuran udara.
Di medan tempur, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pencapaian strategis besar dalam Pernyataan Nomor 8 yang dirilis pada hari Minggu, 1 Maret 2026. IRGC mengonfirmasi bahwa kapal induk AS “Abraham Lincoln” telah dihantam oleh empat rudal jelajah dalam sebuah serangan terkonsentrasi. Akibat kerusakan tersebut, kapal induk tersebut dilaporkan telah meninggalkan lokasi misinya dan bergerak mundur menuju tenggara Samudra Hindia. Selain itu, sebuah kapal pendukung Amerika di lepas pantai Chabahar berhasil dilumpuhkan oleh serangan drone dan rudal hingga keluar dari layanan operasional. Di wilayah Uni Emirat Arab, IRGC juga mengklaim penghancuran total terhadap radar THAAD milik jaringan pertahanan rudal entitas Zionis yang berlokasi di Ruwais.
Efektivitas pertahanan udara Iran juga mencatat rekor baru dengan jatuhnya dua drone “Hermes” milik pendudukan Israel di kota Tabriz dan Khorramabad menggunakan sistem pertahanan udara-ruang angkasa tingkat lanjut. Dengan tambahan ini, total aset udara musuh yang berhasil ditembak jatuh oleh api pertahanan IRGC mencapai 17 unit drone “Hermes” dan satu unit drone canggih MQ-9 milik Amerika Serikat. Serangkaian operasi ini merupakan bagian dari gelombang ketujuh dan kedelapan Operasi True Promise 4 yang diluncurkan sebagai respons atas syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan agresi terhadap situs-situs sipil di Iran.
Dampak dari operasi ofensif ini kian nyata dengan laporan mengenai 560 personel militer Amerika yang menjadi korban tewas maupun luka-luka di berbagai pangkalan kawasan. Data intelijen menunjukkan bahwa pangkalan udara “Ali Al Salem” di Kuwait telah sepenuhnya lumpuh, sementara infrastruktur maritim di pangkalan “Mohammed Al Ahmad” hancur total. Di Bahrain, markas besar angkatan laut AS di Mina Salman mengalami kerusakan signifikan pada pusat komando, ditambah dengan hantaman dua rudal balistik pada kediaman militer AS. Sementara itu, di jalur perdagangan internasional, tiga kapal tanker minyak milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk serta Selat Hormuz dilaporkan masih terbakar hebat, mempertegas pesan dari para fuqaha dan pimpinan militer di Teheran bahwa agresi ini akan dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh Washington dan sekutunya.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Press TV



