Ketegangan diplomatik memuncak pada Jumat, 10 April 2026, setelah sumber resmi Iran membantah laporan mengenai kedatangan delegasi perunding mereka di Islamabad, Pakistan. Teheran secara resmi menginformasikan kepada pihak mediator bahwa mereka tidak akan terlibat dalam pembicaraan apa pun selama serangan udara Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap pelanggaran gencatan senjata yang sebelumnya telah diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa penghentian permusuhan mencakup seluruh front, termasuk Lebanon.
Kondisi di lapangan menunjukkan eskalasi yang sangat kontras dengan upaya perdamaian di Islamabad. Sejak Rabu lalu, serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai lebih dari 1.150 lainnya di berbagai wilayah Lebanon. Human Rights Watch melaporkan bahwa penghancuran jembatan-jembatan menuju wilayah selatan oleh militer Israel mengancam isolasi puluhan ribu warga sipil dari akses makanan dan layanan kesehatan. Meskipun Washington dan Tel Aviv mencoba mengklaim bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kerangka gencatan senjata dua minggu ini, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa Lebanon dan seluruh front perlawanan adalah sekutu yang tak terpisahkan dari kesepakatan tersebut, sebagaimana tercantum dalam poin pertama dari sepuluh syarat yang diajukan Iran.
Situasi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi sulit dengan jendela waktu yang sangat terbatas untuk menahan agresivitas Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah memberikan pilihan tegas kepada Washington: berkomitmen pada gencatan senjata menyeluruh atau membiarkan perang berlanjut melalui Israel, dengan penegasan bahwa kedua jalur tersebut tidak dapat berjalan bersamaan. Pihak Pakistan sendiri, melalui Menteri Pertahanannya, mengakui bahwa tindakan Israel di Lebanon merupakan bentuk genosida yang terjadi tepat di saat meja perundingan sedang disiapkan.
Hingga saat ini, perundingan yang dijadwalkan mulai pada 10 April berada di ambang keruntuhan total. Iran tetap pada pendiriannya bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz dan partisipasi mereka dalam dialog final bergantung sepenuhnya pada kepatuhan Amerika Serikat dan Israel terhadap penghentian serangan di Lebanon. Jika tekanan diplomatik gagal menghentikan pembantaian di Lebanon dalam waktu dekat, peluang untuk mengubah gencatan senjata sementara ini menjadi perdamaian permanen diprediksi akan sirna, dan kawasan Asia Barat akan kembali ke titik krisis terdalam yang mengancam stabilitas energi dan kemanusiaan global.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera


