Skip to main content

Pertempuran di Lebanon Selatan pada Kamis malam, 23 April 2026, menunjukkan perubahan drastis dalam aturan keterlibatan antara Hizbullah dan militer Israel. Pejuang perlawanan meluncurkan rentetan roket ke pemukiman Shtula serta melakukan serangan presisi menggunakan drone peledak terhadap buldozer militer Israel yang tengah menghancurkan rumah-rumah di kota Rashaf. Tidak berhenti di situ, artileri Hizbullah juga menghujani konsentrasi tentara dan kendaraan militer di sekitar sekolah Jamil Bizzi, Bint Jbeil. Rangkaian operasi ini ditegaskan sebagai balasan langsung atas penghancuran rumah warga di Qounine dan Yater, yang dinilai sebagai pelanggaran nyata Israel terhadap gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 17 April lalu.

Di pihak lain, militer Israel mulai merasakan dampak fatal dari ketegangan yang terus meningkat ini. Pihak tentara mengakui bahwa 45 prajurit mereka terluka di Lebanon Selatan hanya dalam kurun waktu 48 jam terakhir. Pengakuan ini memperkuat laporan mengenai jatuhnya drone pengintai Israel di kota Mansouri serta hancurnya titik-titik perkumpulan tentara di wilayah Taybeh akibat bombardir roket perlawanan.

Kondisi lapangan yang kian menyudutkan ini memicu kegelisahan mendalam di internal Israel. Seorang sumber militer kepada surat kabar Maariv menyatakan bahwa situasi saat ini telah “terbalik”. Jika sebelum perang dengan Iran militer Israel bisa bebas menyerang tanpa balasan berarti dari Hizbullah, kini Hizbullah justru menjadi pihak yang aktif meluncurkan serangan sementara tentara Israel merasa tangan mereka terikat karena belum mendapatkan izin balasan dari kepemimpinan politik di Tel Aviv.

Koresponden Channel 13 Israel, Or Heller, memberikan peringatan keras bahwa Israel tidak memiliki solusi ideal di masa depan. Ia menyebut Israel kemungkinan besar telah kembali terperosok ke dalam “lumpur Lebanon”—sebuah kiasan untuk kegagalan militer berkepanjangan yang dulu membutuhkan waktu 18 tahun bagi Israel untuk bisa meloloskan diri. Krisis ini mencerminkan kegagalan strategi pencegahan Israel di tengah ketangguhan taktis Hizbullah yang tetap berada dalam posisi siap tempur meski berada dalam periode gencatan senjata sementara.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency