Pesan serempak dari seluruh lini kepemimpinan Iran pecah pada Kamis, 23 April 2026, sebagai jawaban telak atas klaim Donald Trump mengenai adanya perpecahan internal di Teheran. Melalui narasi yang sangat terkoordinasi, Komandan Pasukan Quds Ismail Qaani, Presiden Masoud Pezeshkian, hingga Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi klasifikasi antara kelompok “garis keras” atau “moderat”. Mereka menyatakan bahwa seluruh elemen bangsa kini melebur menjadi satu kekuatan revolusioner yang solid di bawah komando Sayyid Mojtaba Khamenei demi menghadapi musuh.
Semboyan “Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, satu jalan” menjadi pusat dari pernyataan bersama tersebut. Presiden Pezeshkian dan Ketua Parlemen Qalibaf—lewat unggahan yang muncul hampir bersamaan di platform X—mempertegas bahwa kesatuan nasional inilah yang akan membuat pihak agresor menyesali tindakannya. Di mata para pemimpin ini, kedaulatan Iran jauh lebih berharga daripada kehidupan itu sendiri, dan upaya pihak luar untuk mencari celah konflik di dalam pemerintahan adalah usaha yang sia-sia.
Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi turut memperkuat barisan dengan menyatakan bahwa institusi negara Iran saat ini bekerja dengan tingkat kedisiplinan dan sinkronisasi tujuan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia menekankan bahwa gagalnya upaya terorisme oleh Israel justru membuktikan bahwa sistem mereka tidak tergoyahkan. Bagi Teheran, front diplomatik dan medan tempur kini berada dalam satu garis komando yang sempurna. Resonansi pesan dari berbagai lembaga tinggi ini secara sengaja dirancang untuk meruntuhkan propaganda Trump yang mengeklaim Iran sedang mengalami krisis kepemimpinan dan pertikaian antar-faksi pasca-kekalahan di medan laga.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



