Skip to main content

Artileri militer Israel menargetkan wilayah timur Kota Gaza sementara kapal perang pendudukan melepaskan tembakan ke arah pantai Khan Yunis pada Rabu, 22 April 2026. Serangkaian serangan ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang mendalam, di mana juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengonfirmasi bahwa sekitar 8.000 jenazah martir diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan lebih dari 1.000 rumah yang hancur. Tim penyelamat menghadapi kendala besar akibat kehancuran infrastruktur yang masif serta kelangkaan peralatan berat dan sumber daya yang diperlukan untuk operasi pencarian dan evakuasi.

Kondisi lapangan yang memprihatinkan ini diperburuk oleh berlanjutnya pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 11 Oktober 2025. Sejak tanggal tersebut, tercatat sebanyak 786 warga Palestina gugur akibat berbagai insiden penembakan dan pengeboman yang dilakukan militer Israel di zona-zona pemukiman. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga melaporkan adanya lonjakan kekerasan mingguan hingga 46% di wilayah utara dan tengah Gaza, yang semakin menghambat distribusi bantuan kemanusiaan serta upaya penanganan sisa-sisa bahan peledak yang membahayakan warga sipil.

Data kumulatif yang dirilis otoritas kesehatan menunjukkan skala kehancuran yang mengerikan sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober 2023, dengan total korban mencapai 72.568 martir dan 172.338 warga luka-luka. Meskipun secara formal berada dalam periode jeda pertempuran yang dimediasi internasional, realitas di Gaza tetap diwarnai oleh ketidakpastian keamanan dan penderitaan warga yang kehilangan tempat tinggal. Upaya rekonstruksi yang diperkirakan membutuhkan biaya hingga puluhan miliar dolar AS pun masih tertahan oleh blokade dan situasi militer yang terus bergejolak di sepanjang garis perbatasan maupun di dalam kantong wilayah tersebut.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera