Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan bahwa dua warga Palestina gugur—salah satunya baru berhasil dievakuasi—dan lima lainnya terluka dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober 2025, jumlah korban mencapai 260 syahid, 632 terluka, dan 533 jenazah ditemukan dari reruntuhan. Secara keseluruhan, total korban agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah naik menjadi 69.187 syahid dan 170.703 terluka.
Meski gencatan senjata telah berlangsung selama satu bulan, serangan Israel terus berlanjut di berbagai wilayah Gaza. Pada Kamis dini hari, 13 November 2025, pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara dan melakukan penghancuran terencana di kawasan timur Gaza, termasuk di sekitar Sekolah Ahmad al-Shuqeiri di Beit Lahia dan sebuah lokasi di timur Gaza City. Unit artileri membombardir sisi timur dan tenggara Khan Younis, sementara drone Israel menembakkan peluru di dekat persimpangan al-Sanafour di lingkungan al-Tuffah. Di Jabalia, seorang pemuda Palestina gugur akibat tembakan pasukan Israel, sementara tembakan berat terdengar di al-Shakoush, barat laut Rafah, beriringan dengan penghancuran besar-besaran terhadap permukiman di Rafah, Al-Shuja’iyya, dan timur al-Tuffah.
Koresponden Al-Mayadeen mencatat bahwa eskalasi paling intens terus terjadi di Khan Younis, meskipun secara formal gencatan senjata masih berlaku. Serangan-serangan ini mengkonfirmasi bahwa Israel tetap mempertahankan operasi militernya, bahkan saat kesepakatan gencatan seharusnya menghentikan agresi langsung.
Di tengah kekacauan, Brigade al-Qassam—sayap militer Hamas—untuk hari ketiga berturut-turut bekerja bersama Komite Internasional Palang Merah dan tim Mesir untuk mencari jenazah tiga tawanan Israel yang masih hilang di lingkungan al-Zaytoun. Operasi ini dilanjutkan setelah jeda beberapa hari, menandakan kompleksitas situasi keamanan dan medan pertempuran yang berubah-ubah.
Di saat yang sama, penderitaan masyarakat sipil Gaza terus meningkat, khususnya para nelayan. Laut yang selama puluhan tahun menjadi sumber nafkah ribuan keluarga tetap ditutup oleh angkatan laut Israel. Kapal-kapal perang menembaki, mengusir, dan menangkap para nelayan bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan. Ketua Komite Nelayan, Zakaria Bakr, menegaskan bahwa setiap upaya nelayan untuk memasuki laut berujung tembakan, baik peluru maupun rudal. Sejak kesepakatan gencatan, sekitar 16 nelayan telah ditangkap dalam insiden terpisah—pelanggaran jelas terhadap kesepakatan tersebut.
Seorang nelayan menggambarkan kondisi mereka dengan getir, mengatakan bahwa setiap kali mereka keluar rumah, keluarga hanya bisa berdoa agar mereka kembali hidup-hidup. Enam ribu nelayan kini kehilangan sumber nafkah, sementara risiko ditembak atau ditangkap menghantui setiap perjalanan ke laut. Yang lain mengaku sering meninggalkan jaring mereka dan pulang tanpa hasil karena ketakutan. Bagi para nelayan Gaza, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah—itu adalah simbol ketahanan dan keberlanjutan hidup di tengah blokade dan serangan yang tak berkesudahan.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal mengungkap sisi lain dari perang yang berlangsung: keuntungan besar bagi perusahaan senjata Amerika. Sejak Oktober 2023, Washington telah menyetujui penjualan senjata ke Israel senilai lebih dari 32 miliar dolar. Pendanaan militer AS untuk Israel juga melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun lalu menjadi 6,8 miliar dolar per tahun, tidak termasuk bantuan tidak langsung—angka yang jauh di atas pendanaan tahunan sebelumnya sebesar 3,3 miliar dolar. Laporan itu menyebut perang pemusnahan Israel di Gaza sebagai “berkah besar” bagi industri pertahanan Amerika, sementara biaya keuangannya justru ditanggung para pembayar pajak AS.
Dilansir dari berbagai sumber.
Sumber gambar: CGTN



