Skip to main content

Hasil jajak pendapat terbaru surat kabar Maariv melalui Lembaga Riset Lazar menunjukkan krisis politik mendalam di internal Israel tetap berlanjut meskipun gencatan senjata telah dicapai. Koalisi pimpinan Benjamin Netanyahu dilaporkan gagal pulih dengan hanya mengantongi 49 kursi, sementara blok oposisi mengukuhkan mayoritas 61 kursi untuk minggu ketiga berturut-turut. Partai Likud milik Netanyahu tertahan di angka 25 kursi, tertinggal tipis dari partai besutan Naftali Bennett yang melonjak menjadi 24 kursi, sekaligus menempatkan Bennett sebagai pesaing terkuat dalam bursa Perdana Menteri mendatang.

Ketidakstabilan politik ini dibarengi dengan rasa pesimisme publik yang tinggi, di mana 62% warga Israel meyakini perang dengan Iran akan segera meletus kembali. Jajak pendapat yang dilakukan pada 15-16 April 2026 ini juga mengungkap kegelisahan mengenai masa depan hubungan dengan Lebanon, dengan opini masyarakat terbelah rata antara yang percaya pada perdamaian dan yang menolaknya secara total. Ketidakpercayaan publik terhadap kepemimpinan saat ini semakin diperparah oleh perdebatan hukum mengenai intervensi Mahkamah Agung dalam penunjukan menteri kabinet.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Lebanon dan Israel resmi berlaku selama 10 hari terhitung sejak tengah malam Kamis, 16 April 2026. Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan luar biasa dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Benjamin Netanyahu untuk menghentikan pertempuran sementara. Anggota parlemen Lebanon dari blok Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengonfirmasi bahwa pihak Iran melalui duta besarnya di Beirut telah memainkan peran kunci dalam memaksakan penghentian permusuhan menyeluruh ini, sementara Amerika Serikat bertugas memastikan kepatuhan Netanyahu terhadap keputusan tersebut.

Menanggapi situasi yang masih rapuh, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri mengimbau warga di wilayah Selatan, Bekaa, dan pinggiran kota untuk menunda kepulangan mereka ke kampung halaman. Meskipun memahami kerinduan warga untuk kembali ke tanah mereka, Berri menekankan bahwa menjaga keselamatan nyawa adalah prioritas utama hingga mekanisme gencatan senjata menjadi lebih jelas. Imbauan ini dikeluarkan demi menghindari risiko di tengah ketidakpastian proses diplomatik yang saat ini sangat bergantung pada keberhasilan negosiasi singkat selama sepuluh hari ke depan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: BBC