Skip to main content

Hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kesepakatan gencatan senjata global antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu mereka, militer penjajah Israel melakukan pelanggaran berat dengan melancarkan gelombang serangan udara masif di seluruh wilayah Lebanon pada Rabu sore, 8 April 2026. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon dan Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil, agresi brutal ini telah menyebabkan sedikitnya 254 orang gugur sebagai martir dan melukai lebih dari 1.165 orang lainnya. Eskalasi ini mencakup serangan udara di ibu kota Beirut, pinggiran selatan (Dahiyeh), wilayah Selatan, Lembah Bekaa, hingga Gunung Lebanon, yang memicu kondisi darurat medis di berbagai rumah sakit nasional.

Di Beirut dan sekitarnya, serangan udara menghantam pusat kota dan lingkungan padat penduduk seperti Cola, Barbour, Manara, Ain Mreisseh, hingga wilayah Basta dan Choueifat, yang mengakibatkan 92 orang gugur. Sementara itu, di pinggiran selatan Beirut, wilayah Laylaki, Jnah, dan Bir Hassan terus menjadi sasaran pemboman yang merenggut 61 nyawa warga sipil. Rumah sakit-rumah sakit di ibu kota telah mengeluarkan seruan darurat untuk donor darah guna menangani gelombang besar korban luka yang terus berdatangan akibat hantaman rudal ke apartemen-apartemen pemukiman.

Wilayah Selatan Lebanon dan Bekaa juga mengalami pembantaian serupa di mana serangan udara Israel menyasar lebih dari dua puluh kota dan desa. Di Sidon, sebuah bangunan hancur total dan menewaskan sedikitnya 12 warga, sementara di Adloun, tiga gadis muda dilaporkan gugur setelah rumah mereka dihantam rudal. Di wilayah Bekaa Timur, kota Shamshtar dan Hermel menjadi pusat agresi yang menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk serangan terhadap apartemen di kota Dours. Wilayah Nabatieh dan Tyre juga melaporkan kerusakan parah pada infrastruktur sipil dengan total gabungan korban jiwa mencapai puluhan orang di tengah gempuran yang tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel ini terjadi tepat di saat komunitas internasional tengah menyambut harapan perdamaian melalui mediasi Pakistan. Meskipun Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati penghentian permusuhan di semua front—termasuk Lebanon—militer Israel justru meningkatkan intensitas pembantaiannya terhadap warga sipil dan fasilitas vital. Tindakan ini memperburuk krisis kemanusiaan di Lebanon dan mengancam keberlangsungan rencana perundingan final yang dijadwalkan akan berlangsung di Islamabad pada 10 April mendatang, sekaligus menunjukkan pembangkangan nyata terhadap kerangka hukum internasional dan kesepakatan gencatan senjata yang telah diumumkan secara global.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: DW