Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pada Senin, 9 Maret 2026 malam, bahwa dirinya berterima kasih kepada US Central Command karena telah mengakui penggunaan wilayah negara-negara tetangga Iran untuk meluncurkan rudal jarak pendek terhadap rakyat Iran. Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi ini muncul setelah akun US Central Command mengunggah foto dari salah satu pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut yang disertai dengan pernyataan bahwa Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) Angkatan Darat Amerika Serikat memberikan kemampuan serangan mendalam yang tidak tertandingi dalam pertempuran melawan pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mencatat bahwa serangan terhadap instalasi desalinasi air di Qeshm tampaknya juga dilakukan dengan menggunakan wilayah negara-negara tetangga Iran tersebut.

Dua hari sebelumnya, tepatnya pada Minggu, 8 Maret 2026, Amerika Serikat menargetkan fasilitas desalinasi air tawar di Pulau Qeshm yang menyebabkan terganggunya pasokan air di sekitar 30 desa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengindikasikan pada saat itu bahwa tindakan tersebut merupakan eskalasi berbahaya yang akan membawa konsekuensi mengerikan. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan dalam gelombang ke-26 bahwa mereka telah menargetkan pangkalan Juffair milik Amerika Serikat di Bahrain dengan rudal berbahan bakar padat dan cair. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat yang diluncurkan dari pangkalan tersebut terhadap fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm milik Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan kembali setelah pernyataan komando Amerika Serikat tersebut bahwa jika rudal-rudal kuat Iran menghancurkan sistem-sistem pertahanan tersebut di mana pun mereka ditemukan sebagai bentuk balasan, maka tidak boleh ada pihak yang mengeluh.

Sejak 28 Februari 2026, Iran telah menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk sebagai langkah defensif terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel yang diluncurkan terhadap mereka. Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Majid Mousavi mengonfirmasi bahwa mulai saat ini tidak ada rudal dengan hulu ledak seberat kurang dari satu ton yang akan diluncurkan oleh pihaknya. Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Majid Mousavi menambahkan dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada Senin, 9 Maret 2026, bahwa intensitas dan skala serangan rudal akan meningkat serta jangkauan serangannya akan terus diperluas. Sebelumnya pada hari yang sama, Brigadir Jenderal Majid Mousavi berbicara kepada rakyat Iran dan menekankan agar mereka yakin bahwa serangan terhadap musuh tidak akan berhenti sedetik pun.

Korps Garda Revolusi Islam terus melanjutkan gelombang peluncuran rudal sebagai bagian dari Operasi True Promise 4, dengan jumlah gelombang yang telah mencapai 32 sejak dimulainya agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan rudal-rudal berat dengan hulu ledak besar dan ganda yang menargetkan jantung entitas pendudukan serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya mengonfirmasi bahwa pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan dan di wilayah pendudukan mengalami hantaman harian dari rudal dan serangan drone Iran. Di sisi lain, media massa The Washington Post mengutip seorang pejabat Israel yang menyatakan bahwa mereka sedang mempelajari kemungkinan untuk mengakhiri perang tanpa menggulingkan kekuasaan di Iran karena adanya kekhawatiran dari lembaga keamanan dan politik akan terjadinya perang yang tidak berujung.

Laporan media massa The Washington Post tersebut mengungkapkan adanya perbedaan pandangan yang mendalam di dalam lingkaran pengambilan keputusan Israel mengenai serangan terbuka terhadap Iran. Sejumlah pejabat militer senior mulai menyuarakan kekhawatiran mengenai kurangnya strategi keluar yang jelas dan menyarankan untuk mencari jalur diplomatik guna menghentikan perang sebelum kerusakan ekonomi dan militer semakin memburuk. Seorang pejabat senior Israel yang memahami perencanaan strategis mengungkapkan adanya kesenjangan antara lembaga keamanan dan kepemimpinan politik di negaranya. Pejabat tersebut melanjutkan bahwa sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras untuk mencapai momen kebenaran dan memaksakan penyerahan diri tanpa syarat, para pemimpin militer percaya bahwa terus berperang dengan tujuan menggulingkan kekuasaan dapat menyeret kawasan ke dalam konflik tanpa akhir tanpa jaminan adanya alternatif kepemimpinan yang stabil.

Laporan tersebut juga menyoroti komplikasi politik baru dengan munculnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran. Media massa The Washington Post menggambarkan sosok Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin yang berhaluan garis keras dan sangat dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam, yang menjadikannya pihak yang tidak bersedia duduk di meja perundingan atau menerima penyelesaian melalui negosiasi seperti yang dicita-citakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya. Para pejabat yang berbicara kepada surat kabar tersebut menunjukkan bahwa rencana untuk melakukan perubahan rezim menghadapi hambatan besar di lapangan serta struktur kepemimpinan Iran yang masih menunjukkan kekompakan yang kuat. Pejabat Israel tersebut memperingatkan bahwa kelanjutan konflik terbuka ini menempatkan ekonomi global dalam krisis parah akibat lonjakan harga energi dan juga menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam konflik jangka panjang yang tidak memiliki basis dukungan rakyat yang kuat. Laporan The Washington Post menyimpulkan bahwa meskipun Israel merupakan sekutu yang dapat diandalkan, mereka kini khawatir akan menjadi beban jika terus menyeret Washington ke dalam perang atrisi yang tidak berujung. Pertanyaan mendasar yang kini dihadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah mengenai bagaimana perang ini akan berakhir di tengah absennya rencana masa depan yang jelas.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Jerusalem Post