Kondisi keamanan di Selat Hormuz mencapai titik nadir pada hari Rabu, 4 Maret 2026, ditandai dengan lonjakan premi asuransi pengiriman yang naik hingga dua belas kali lipat. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berjanji bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker “jika diperlukan”, para pialang asuransi melaporkan bahwa premi kini telah menyentuh angka 3% dari nilai total kapal, melonjak drastis dari angka sebelum perang yang hanya sebesar 0,25%. Situasi ini diperburuk oleh pengumuman resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyatakan telah memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur vital yang melayani sekitar 20% aliran minyak dunia serta pasokan gas alam cair (LNG) utama dari Qatar.
Dampak dari blokade de facto ini terlihat jelas pada data pelacakan kapal MarineTraffic yang dikutip oleh Associated Press. Laporan tersebut menunjukkan penurunan lalu lintas kapal tanker minyak hingga 90% melalui Selat Hormuz, sebuah tren tajam yang mencerminkan kekhawatiran keamanan ekstrem dari perusahaan pelayaran global. Ribuan kapal kini dilaporkan berkumpul dan tertahan di perairan terbuka serta Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA, menghindari risiko penghancuran di jalur utama yang kini berada di bawah pengawasan ketat militer Iran sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.
Di sisi lain, kelumpuhan pasokan energi dari Timur Tengah memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi Rusia. Associated Press melaporkan pada hari Rabu bahwa kenaikan harga minyak dunia—yang dipicu oleh hampir berhentinya lalu lintas di Selat Hormuz—telah mendongkrak harga ekspor minyak Rusia dari di bawah 40 dolar AS pada Desember lalu menjadi sekitar 62 dolar AS per barel. Lonjakan ini memperkuat anggaran Kremlin dan menjadi sumber pendanaan penting bagi operasi mereka di Ukraina. Selain minyak, potensi penghentian produksi LNG dari Qatar diprediksi akan meningkatkan persaingan global untuk mendapatkan pasokan gas, termasuk kiriman dari Rusia, yang pada gilirannya akan semakin melambungkan harga gas alam yang di Amerika Serikat sendiri sudah naik 7,4% sejak awal pekan.
Krisis ini menempatkan pasar energi global dalam kondisi kebingungan ekstrem. Janji asuransi risiko politik dari Donald Trump melalui Development Finance Corporation (DFC) tampaknya belum mampu menenangkan para operator kapal yang menghadapi kenyataan di lapangan bahwa IRGC telah mematikan jalur logistik utama tersebut. Dengan terkendalanya arus keluar energi dari Arab Saudi, Irak, dan Qatar, dunia kini menghadapi ancaman guncangan ekonomi jangka panjang yang sangat bergantung pada seberapa lama blokade di mulut Teluk ini akan berlangsung pasca-syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: BBC



