Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, memimpin delegasi diplomatik dan keamanan tingkat tinggi dalam kunjungan resmi ke Teheran pada Senin, 19 Januari 2026. Pertemuan ini merupakan langkah krusial bagi kedua negara untuk memperkuat fondasi hubungan bilateral di berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi, perdagangan, transportasi, energi, hingga pariwisata dan budaya. Di tengah situasi regional yang tidak menentu, kedua menteri luar negeri secara khusus mendalami kerja sama keamanan, termasuk upaya pemberantasan terorisme, pengamanan perbatasan bersama, serta koordinasi untuk menghadapi serangan agresif entitas Israel yang terus mengganggu stabilitas negara-negara di kawasan.
Dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengumumkan kesepakatan besar antara Teheran dan Baghdad untuk memajukan inisiatif diplomatik yang bertujuan menciptakan stabilitas regional berdasarkan pemahaman keamanan bersama. Abbas Araqchi menegaskan bahwa kedua negara sedang bekerja secara serius dalam menyusun Perjanjian Kerja Sama Strategis Komprehensif yang akan menjadi payung hukum bagi hubungan jangka panjang mereka. Salah satu poin penting yang ditegaskan adalah mengenai evakuasi Pangkalan Udara Ain al-Asad. Araqchi menyebutkan bahwa penyerahan pangkalan tersebut kepada pasukan Irak merupakan indikator nyata dari kemandirian dan kedaulatan politik Irak yang penuh, sekaligus memperkuat posisi Irak sebagai negara yang mampu menjaga perdamaian tanpa ketergantungan pada kekuatan asing.
Iran menyampaikan aspirasi tertingginya untuk melihat Irak sebagai negara yang stabil dan independen. Abbas Araqchi percaya bahwa Irak memiliki seluruh kapasitas yang diperlukan untuk berkontribusi dalam stabilitas West Asia. Menanggapi hal tersebut, Fuad Hussein menyatakan bahwa kunjungannya ke Iran mencerminkan kedalaman hubungan kedua negara yang telah teruji dalam berbagai bidang. Ia juga menekankan bahwa Irak saat ini tengah berada dalam tahap pembentukan pemerintahan baru, sehingga percepatan proses politik di dalam negeri menjadi prioritas utama. Fuad Hussein menegaskan bahwa komunikasi intensif dengan Iran adalah kunci untuk mengatasi situasi kawasan saat ini, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip penolakan terhadap segala bentuk campur tangan asing.
Sentimen diplomatik ini juga tercermin kuat melalui aksi massa di jalanan ibu kota Irak. Di Baghdad, ribuan orang berkumpul secara masif di depan gedung direktorat media Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) atau Al-Hashd al-Shaabi. Massa hadir dengan pesan solidaritas yang tegas untuk mendukung rakyat dan pemerintah Iran di tengah ancaman serangan militer dari entitas Israel dan Amerika Serikat. Para demonstran mengibarkan bendera Irak, Iran, dan bendera perlawanan (muqawamah), sembari meneriakkan slogan-slogan anti-imperialisme sebagai bentuk penolakan terhadap tekanan Barat.
Gelombang dukungan ini menyebar luas ke berbagai kota besar lainnya di Irak. Sepanjang pekan terakhir, aksi serupa terjadi di Basra, Najaf, Karbala, hingga Mosul. Rakyat Irak menganggap dukungan terhadap Iran saat ini adalah sebuah kewajiban moral dan bentuk balas budi atas peran besar Republik Islam Iran dalam membantu Irak keluar dari berbagai krisis keamanan di masa lalu. Demonstrasi ini menjadi bukti bahwa persatuan antara kedua bangsa tidak hanya terjadi di level pemerintahan, tetapi juga telah mengakar kuat di level masyarakat sipil sebagai benteng pertahanan melawan dominasi asing di kawasan.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



