Kantor berita Rusia TASS, mengutip sumber dari dinas keamanan Iran, mengungkapkan temuan mengejutkan terkait hasil pemeriksaan forensik resmi terhadap para korban kerusuhan yang melanda beberapa kota di Iran baru-baru ini. Hasil investigasi menunjukkan adanya peluru asal Israel yang bersarang di tubuh anak-anak yang tewas selama kekacauan yang dipicu oleh agen-agen binaan Amerika Serikat dan Zionis. Salah satu kasus yang diungkapkan adalah insiden di Isfahan yang menimpa seorang anak perempuan berusia 8 tahun saat sedang berbelanja bersama keluarganya. Bocah malang tersebut menderita luka tembak di bagian perut, dagu, dan belakang kepala, di mana pemeriksaan forensik mengonfirmasi bahwa proyektil yang digunakan adalah jenis peluru militer milik Israel.
Tragedi serupa juga menimpa seorang balita berusia 3 tahun bernama Milena Asadi di kota Kermanshah pada malam tanggal 7 Januari 2026. Saat itu, Milena sedang bersama ayahnya dalam perjalanan pulang setelah membeli susu formula dan obat-obatan dari apotek ketika teroris tiba-tiba menembaknya dari belakang hingga tewas di tempat. Pejabat pemerintah Iran menegaskan bahwa infiltrasi pria bersenjata dan kelompok teroris ke tengah protes damai telah mengubah situasi menjadi ajang sabotase dan kekerasan bersenjata yang merenggut nyawa warga sipil tidak berdosa serta personel keamanan. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan bahwa penembakan tersebut sengaja menargetkan polisi dan warga sipil secara membabi buta guna menciptakan korban jiwa yang masif.
Berdasarkan data resmi dari Yayasan Martir dan Pengorbanan Republik Islam Iran, tercatat sebanyak 2.427 anggota pasukan keamanan dan elemen masyarakat telah gugur sebagai martir dalam menghadapi fitnah tersebut. Sementara itu, sekitar 690 orang yang diidentifikasi sebagai penghasut dan pelaku sabotase yang didanai serta didukung oleh Amerika Serikat dan entitas Zionis juga tewas dalam operasi penertiban. Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan konspirasi terorganisir yang menggunakan metode baru yang hanya bisa digagalkan melalui persatuan, kewaspadaan, dan solidaritas nasional yang kuat antara tentara, Garda Revolusi, serta pasukan keamanan internal.
Dalam pertemuan di Markas Besar IRGC pada Kamis, 22 Januari 2026, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour memberikan penghormatan khusus kepada Imam Khomeini dan para pemimpin militer yang telah gugur, termasuk Hajj Hossein Salami, Amir Ali Hajizadeh, dan Hajj Mohammad Kazemi. Ia menyamakan karakteristik gerakan perusuh ini dengan praktik kelompok takfiri ISIS, di mana perbedaannya terletak pada target korban. Jika ISIS membunuh atas dasar tuduhan murtad, kelompok perusuh ini secara spesifik menyerang individu-individu religius karena kepatuhan mereka pada agama. Ia menegaskan bahwa sebagaimana Jenderal Qasem Soleimani menghancurkan ISIS, konspirasi terbaru ini pun akan dipatahkan melalui kesiagaan pasukan revolusioner dan persatuan seluruh elemen militer Iran.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



