Skip to main content

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyebut peringatan pengambilalihan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 13 Aban 1358 (4 November 1979) sebagai hari kehormatan dan kemenangan bangsa Iran, sekaligus momen yang menyingkap wajah sejati pemerintahan arogan Amerika Serikat.

Berbicara di hadapan ribuan pelajar, mahasiswa, dan keluarga syahid dari perang 12 hari yang baru berakhir, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa peristiwa itu mengungkap hakikat permusuhan Amerika terhadap Iran, yang menurutnya telah berlangsung sejak kudeta 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) dan terus berlanjut hingga kini. Ia menekankan bahwa perselisihan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat bersifat mendasar dan eksistensial, bukan taktis, dan bahwa tidak ada ruang untuk mempertimbangkan permintaan kerja sama apa pun dari Washington sebelum negara itu menghentikan dukungan penuhnya terhadap entitas Zionis, menarik seluruh pangkalan militernya dari kawasan, dan berhenti mencampuri urusan negara lain.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan nasional dan penguatan Republik Islam hanya dapat dicapai melalui kekuatan administratif, ilmiah, militer, dan spiritual, seraya menyerukan kepada pemerintah untuk melaksanakan tanggung jawabnya “dengan kekuatan dan ketegasan.”

Menjelaskan sejarah panjang permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran, beliau mengatakan bahwa peristiwa pengambilalihan Kedutaan Besar AS dapat ditinjau dari dua sisi—sejarah dan identitas—dan harus dikenang sebagai hari kemuliaan dan kemenangan rakyat Iran. Ia menekankan bahwa sejarah bangsa mencakup hari-hari terang dan gelap yang sama-sama harus dijaga dalam ingatan nasional.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mencontohkan peristiwa cemerlang seperti fatwa Mirza Shirazi yang membatalkan konsesi tembakau, pembatalan perjanjian Vusuq-e-Dawla, serta perlawanan terhadap kolonialisme Inggris yang dipimpin oleh Syahid Modarres. Ia juga mengingatkan agar bangsa tidak melupakan peristiwa kelam seperti kudeta Inggris tahun 1921 yang membawa Reza Khan ke kekuasaan dan memulai era tirani serta dominasi asing.

Beliau menekankan bahwa dokumentasi dan penyampaian peristiwa 13 Aban kepada generasi muda sangat penting, karena peristiwa itu membongkar hakikat sejati Amerika sekaligus menampakkan esensi Revolusi Islam yang otentik.

Dalam penjelasan mengenai konsep “keangkuhan” (istikbar), Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan bahwa kesombongan sejati bukan hanya merasa unggul, tetapi ketika sebuah negara menempatkan diri sebagai penguasa nasib bangsa lain, menjarah kekayaan mereka, dan membangun pangkalan militer di negeri lemah—sebagaimana dulu dilakukan Inggris dan kini dilakukan Amerika. “Inilah keangkuhan yang kita lawan,” ujarnya.

Beliau menyinggung kembali sejarah hubungan Iran–Amerika sejak Revolusi Konstitusional, masa pemerintahan Mohammad Mosaddegh, hingga kudeta 1953 yang menggulingkan pemerintah nasional dan mengembalikan Shah ke tampuk kekuasaan dengan dukungan Amerika dan Inggris. Sejak saat itu, katanya, bangsa Iran menyadari wajah arogan Washington.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menjelaskan bahwa setelah kemenangan Revolusi Islam, keputusan Senat AS untuk mengizinkan Shah memasuki wilayah Amerika memicu kemarahan rakyat Iran, yang khawatir akan terulangnya kudeta 1953. Demonstrasi besar kemudian terjadi, dan salah satu aksi mahasiswa itu berujung pada pengambilalihan Kedutaan Besar AS. Menurut beliau, para mahasiswa awalnya berniat menempati kedutaan hanya selama beberapa hari, namun setelah menemukan dokumen rahasia, mereka menyadari kedutaan tersebut merupakan pusat persekongkolan untuk menggulingkan revolusi.

Beliau menegaskan bahwa menafsirkan peristiwa 13 Aban sebagai awal permusuhan Iran–AS adalah keliru, karena akar masalahnya telah ada sejak kudeta 1953. Pengambilalihan kedutaan justru menyingkap rencana konspirasi besar Amerika terhadap revolusi yang baru lahir.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa alasan utama permusuhan Washington adalah karena kehilangan kendali atas Iran dan sumber dayanya. Sejak itu, Amerika melancarkan berbagai upaya melawan bangsa Iran—dari sanksi ekonomi, dukungan terhadap Saddam Hussein dalam perang, hingga penembakan pesawat sipil Iran yang menewaskan 300 orang.

Beliau menegaskan bahwa pertentangan antara Teheran dan Washington bersifat mendasar dan tidak mungkin diselesaikan dengan kompromi taktis. Ia menolak anggapan bahwa slogan “Maut bagi Amerika” adalah penyebab permusuhan AS terhadap Iran, menegaskan bahwa Amerika sudah memusuhi Iran jauh sebelum slogan itu muncul, karena kepentingan kedua negara bertentangan secara fundamental.

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah tunduk pada tuntutan penyerahan total yang menjadi ciri politik Amerika. Ia mengatakan bahwa solusi bagi kemajuan dan ketahanan nasional adalah memperkuat diri di bidang pemerintahan, ilmu pengetahuan, militer, dan iman. “Jika musuh menyadari bahwa berhadapan dengan bangsa kuat ini akan lebih merugikan daripada menguntungkan, mereka akan berhenti memusuhi,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyerukan kepada generasi muda untuk memperdalam kesadaran politik dan sejarah, mempercepat kemajuan ilmiah, serta memperkuat nilai spiritual dan moral. Ia menasihati pemuda untuk meneladani kehidupan Sayidah Fatimah az-Zahra dan Sayidah Zainab, menjaga salat, menegakkan hijab sebagai nilai Fatimiyah dan Zainabiyah, serta mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. “Hanya pemuda beriman yang mampu mengatakan ‘Maut bagi Amerika’ dengan makna sejati dan berdiri teguh menghadapi para tiran zaman,” ujarnya.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Pars Today