Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengungkapkan pada Minggu, 1 Maret 2026, bahwa Republik Islam telah melewati “pengalaman yang sangat pahit” setelah Amerika Serikat mengkhianati jalur diplomasi sebanyak dua kali dalam dua belas bulan terakhir. Araqchi membeberkan bahwa baru saja pada Kamis lalu di Jenewa, delegasi Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kemajuan signifikan setelah tujuh jam negosiasi yang memuaskan kedua belah pihak. Namun, tepat ketika kesepakatan berada dalam jangkauan, pihak-pihak yang menentang perdamaian memutuskan untuk menghancurkan jalur tersebut melalui agresi militer. Beliau menegaskan:

“Mereka yang menentang perdamaian, diplomasi, dan negosiasi, ketika melihat jalur diplomatik berjalan baik, memutuskan untuk menghancurkannya. Amerika dan Israel menciptakan atmosfer media yang menyerang Republik Islam Iran, melontarkan berbagai tuduhan, serta memproduksi informasi palsu dan menyesatkan hingga akhirnya mereka mencapai apa yang mereka inginkan.”

Dalam wawancara dengan ABC News dan komunikasi diplomatik dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, Araqchi menekankan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat adalah murni tindakan agresi, sementara respons Iran adalah hak bela diri yang sah dan absolut. Beliau juga menyoroti tragedi kemanusiaan di Sekolah Dasar Minab sebagai kejahatan perang yang nyata. Beliau menyatakan:

“Kami berada dalam status membela diri dan memiliki hak yang sepenuhnya sah untuk mempertahankan diri; tidak ada yang bisa melarang kami. Kemarin mereka menyerang sebuah sekolah dan sejauh ini 148 siswi telah syahid. Ini adalah pembantaian besar dan kejahatan perang. Kami akan membela diri dengan harga apa pun dan tidak akan menetapkan batasan bagi diri kami sendiri dalam melindungi rakyat kami.”

Mengenai kesiapan militer, Araqchi menegaskan melalui akun platform X miliknya bahwa pengeboman di ibu kota tidak akan melumpuhkan kemampuan perang Iran. Beliau menjelaskan bahwa Iran telah menghabiskan dua dekade mempelajari kegagalan militer Amerika di kawasan sekitar untuk membangun sistem pertahanan yang unik. Terkait strategi pembalasan, beliau menegaskan:

“Pemboman yang menargetkan ibu kota kami tidak memengaruhi kemampuan kami untuk berperang. Sistem pertahanan mosaik kami yang terdesentralisasi memungkinkan kami untuk menentukan kapan dan bagaimana perang ini akan berakhir. Kali ini, dalam waktu kurang dari dua jam, kami telah mulai membalas dengan menyerang target-target Israel serta pangkalan-pangkalan Amerika, dan kami masih terus melanjutkan jalur ini.”

Pernyataan ini mempertegas posisi Teheran bahwa meskipun kehilangan pemimpin tertinggi, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, komando militer Iran tetap utuh dan lebih siap dibandingkan perang-perang sebelumnya. Dengan sistem “pertahanan mosaik” yang terdesentralisasi, Araqchi mengirimkan pesan kuat kepada Washington dan Tel Aviv bahwa Iran memegang kendali penuh atas ritme pertempuran dan tidak akan lagi terjebak dalam janji diplomasi yang dikhianati di tengah proses negosiasi nuklir.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera