Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa protes damai di negaranya telah dieksploitasi oleh elemen teroris dan diubah menjadi aksi kekerasan serta pemberontakan bersenjata. Ia mengungkapkan adanya laporan mengerikan mengenai kasus pemenggalan kepala, pembakaran orang hidup-hidup, serta penggunaan senjata api secara masif oleh kelompok teroris tersebut.

Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dan Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Abbas Araqchi mencatat bahwa pada Kamis dan Jumat pekan lalu telah terjadi aksi terorisme yang serupa dengan pola serangan organisasi ISIS. Ia menjelaskan bahwa elemen teroris inilah yang menyabotase protes damai awal dengan meluncurkan serangan brutal terhadap aparat penegak hukum dan warga sipil menggunakan senjata api serta bom molotov. Serangan tersebut mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa serta pembakaran ambulans, mobil pemadam kebakaran, pusat medis, hingga tempat ibadah.

Abbas Araqchi menyatakan bahwa klaim otoritas Amerika Serikat mengenai dukungan terhadap hak asasi manusia di Iran adalah hal yang memalukan. Menurutnya, partisipasi jutaan rakyat Iran dalam pawai nasional pada Senin, 12 Januari 2026, merupakan pesan jelas mengenai dukungan rakyat terhadap persatuan nasional dan penolakan terhadap campur tangan asing. Dalam surat yang juga dikirimkan kepada Menteri Luar Negeri negara-negara anggota PBB tersebut, Abbas Araqchi menyebut bahwa besarnya jumlah korban di pihak kepolisian mencerminkan dua hal: tingkat pengendalian diri yang luar biasa dari aparat keamanan, sekaligus tingkat kekerasan ekstrem yang digunakan oleh elemen teroris.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, mengonfirmasi bahwa Teheran memiliki informasi akurat mengenai keterlibatan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa sekutunya dalam mendirikan markas bagi kelompok separatis dan teroris. Aziz Nasirzadeh mengungkapkan adanya rencana Amerika-Israel untuk mendorong setiap wilayah separatis menyusun konstitusi sendiri, yang didukung dengan pasokan senjata serta perlindungan finansial dan logistik. Ia menyebut bahwa intelijen Iran telah mendeteksi pertemuan gabungan di salah satu negara kawasan guna menghasut kekacauan, di mana intelijen AS mempresentasikan rencana peningkatan anggaran untuk aksi tersebut.

Di kancah diplomasi internasional, Abbas Araqchi aktif melakukan komunikasi dengan berbagai pihak. Kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, ia menegaskan bahwa Iran akan membela kedaulatannya dengan tegas dan mengingatkan tanggung jawab negara-negara kawasan untuk menjaga stabilitas. Faisal bin Farhan menyatakan keprihatinannya atas situasi saat ini dan menekankan pentingnya saluran diplomatik.

Dukungan juga datang dari Turki dan Tiongkok. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan bahwa Ankara menentang solusi militer dalam perselisihan antara Teheran dan Washington serta berharap krisis diselesaikan melalui negosiasi. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, dalam pembicaraan telepon dengan Abbas Araqchi, menyerukan dialog dan pengendalian diri. Wang Yi menegaskan bahwa Beijing menolak penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional dan percaya pada kemampuan pemerintah serta rakyat Iran untuk menjaga stabilitas negara mereka.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera