Panglima Angkatan Darat Iran Amir Hatami memberikan pernyataan yang sangat tegas mengenai komitmen angkatan bersenjata dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, serta sistem Republik Islam hingga titik darah penghabisan. Dalam sebuah pidato yang disampaikan pada Selasa, 24 Februari 2026, ia menekankan bahwa tanggung jawab militer saat ini menjadi sangat krusial di tengah dinamika global yang terus berubah. Amir Hatami menyoroti bahwa Iran kini tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga perang hibrida yang mencakup dimensi politik, ekonomi, hingga tekanan psikologis. Ia menepis klaim musuh mengenai kekuatan mereka yang seolah tak terkalahkan dengan merujuk pada catatan sejarah kekalahan Amerika Serikat di Vietnam dan Afghanistan. Menurutnya, musuh sering kali memasuki arena pertempuran dengan gertakan dan intimidasi, namun pada akhirnya meninggalkan medan laga dengan kekalahan, sebagaimana yang terjadi di Irak dan negara-negara lainnya.
Amir Hatami menjelaskan bahwa strategi utama untuk memenangkan perang hibrida ini adalah melalui kesadaran dan pemahaman yang tepat terhadap dimensi serta tujuan serangan lawan. Ia berpendapat bahwa keteguhan hati atau sikap pantang menyerah merupakan faktor penentu yang didasarkan pada pengetahuan yang presisi mengenai misi pertahanan negara. Merujuk pada perkembangan terkini, ia mencatat bahwa pengerahan armada kapal perang dan senjata berat oleh pihak lawan ke kawasan tersebut justru disambut dengan ketetapan hati yang sangat kuat dari pihak Teheran. Amir Hatami juga mengungkapkan bahwa musuh sering kali terjebak dalam ilusi yang menganggap Iran berada dalam posisi lemah, padahal jutaan rakyat Iran saat ini sudah dalam kondisi siap untuk mempertahankan tanah air mereka. Baginya, kesiapan untuk syahid demi membela negara tetap menjadi kehormatan tertinggi yang tidak bisa dipahami oleh logika kekuatan militer konvensional pihak lawan.
Sejalan dengan pernyataan militer tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi memberikan peringatan diplomatik yang keras dalam pertemuan tingkat tinggi Konferensi Pelucutan Senjata di Jenewa. Ia menegaskan bahwa perang melawan Iran tidak akan pernah menjadi konflik yang terbatas pada dua pihak saja, melainkan akan meluas dan berdampak sistemik bagi banyak negara serta pihak lain di kawasan. Kazem Gharibabadi melontarkan kalimat peringatan yang tajam dengan menyatakan bahwa musuh-musuh Iran mungkin memiliki kemampuan untuk memulai sebuah peperangan, namun mereka dipastikan tidak akan mampu mengendalikan kapan atau bagaimana perang tersebut berakhir. Ia menuduh pihak lawan sedang mencoba menciptakan kekacauan internal dan menyalahgunakan protes damai sebagai jalan pembuka bagi agresi militer lebih lanjut setelah upaya agresi mereka di masa lalu mengalami kegagalan.
Dalam forum internasional tersebut, Kazem Gharibabadi juga secara kategoris menolak segala tuduhan yang menyebutkan adanya tujuan militer dalam program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai dan dipandu oleh kewajiban hukum internasional serta prinsip ideologis dan moral yang menolak keberadaan senjata pemusnah massal. Ia mengkritik keras standar ganda yang diterapkan oleh negara-negara pemilik senjata nuklir dan mendesak mereka untuk memenuhi kewajiban sesuai Pasal 6 Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) tanpa penundaan. Meskipun Iran tetap bersiap untuk membela diri sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kazem Gharibabadi menyampaikan bahwa saat ini masih ada peluang baru di Jenewa untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog yang setara dan saling menghormati, bukan melalui penerapan aturan internasional yang bersifat selektif dan memihak.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



