Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyatakan bahwa seruan Amerika Serikat untuk membom prosesi pemakaman para martir, yaitu Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyid Hashem Safieddine, mengungkapkan peran nyata yang dimainkan oleh Washington di kawasan Timur Tengah. Dalam pidatonya yang disampaikan pada Selasa, 24 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan satu tahun prosesi pemakaman kedua pemimpin besar tersebut, Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa entitas Israel hanyalah alat yang digunakan untuk mengimplementasikan proyek hegemoni dan kendali Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa Israel merupakan entitas kolonial yang sombong, yang awalnya disponsori oleh Inggris dan kemudian diambil alih oleh Amerika Serikat dengan dukungan Barat, guna melayani kepentingan Washington dalam menundukkan negara-negara serta rakyat di kawasan tersebut.
Menurut pandangan Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem, serangkaian kebijakan Amerika Serikat mulai dari pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota entitas pendudukan, dukungan terhadap perluasan permukiman, hingga dukungan penuh dalam perang di Gaza, mencerminkan ambisi Amerika Serikat untuk memaksakan kontrol melalui kekerasan. Ia juga menunjukkan bahwa situasi yang terjadi di Lebanon saat ini berada dalam konteks yang sama, di mana Washington secara aktif mengelola agresi baik secara politik maupun militer, serta memberikan tekanan terhadap urusan internal negara Lebanon, khususnya mengenai persenjataan kelompok perlawanan. Sheikh Naim Qassem memberikan kritik tajam terhadap slogan perdamaian melalui kekuatan yang diusung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan menyatakan bahwa slogan tersebut merupakan bentuk pemaksaan kolonialisme melalui kekuatan militer untuk membuat negara-negara menyerah di bawah ancaman.
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa proyek Israel Raya memiliki irisan yang sama dengan proyek hegemoni Amerika Serikat, di mana Israel bertindak sebagai pelaksana lapangan selama masih mampu menjalankan perannya. Namun, Washington akan melakukan intervensi secara langsung apabila entitas tersebut tidak mampu lagi menghadapi perlawanan, sebagaimana yang terjadi dalam konfrontasi dengan Iran. Ia menunjuk pada fakta pengiriman senjata harian melalui jalur udara ke Israel, pengerahan armada angkatan laut pendukung, koordinasi militer langsung di bawah kepemimpinan Amerika Serikat, serta manuver politik dengan dalih keamanan Israel sebagai bukti manajemen konflik langsung oleh Amerika Serikat. Baginya, pemerintahan Amerika Serikat menolak segala bentuk gerakan pembebasan dan menganggap setiap penolakan terhadap imperialisme baru ini sebagai ancaman yang harus ditekan atau dipadamkan.
Tensi di kawasan semakin meningkat seiring dengan munculnya kecaman luas dari dunia Arab dan Islam terhadap pernyataan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee yang mengeklaim adanya hak Taurat bagi Israel untuk menguasai wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Berbagai negara termasuk Iran, Arab Saudi, Mesir, Irak, dan Oman telah memberikan peringatan keras bahwa retorika semacam itu membahayakan keamanan regional serta merusak prinsip kedaulatan negara yang diatur dalam hukum internasional. Ibu kota negara-negara Arab dan Islam menekankan bahwa pernyataan provokatif dari Mike Huckabee tersebut merupakan seruan terang-terangan untuk melakukan agresi terhadap kedaulatan negara dan mendukung pendudukan dalam melanjutkan perang genosida, pengusiran, serta rencana aneksasi wilayah terhadap rakyat Palestina yang ditolak oleh seluruh komunitas internasional.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



