Skip to main content

Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengungkapkan kepada situs web Axios bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump siap mengadakan putaran perundingan lanjutan dengan Iran pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa. Namun, kesiapan tersebut diberikan dengan syarat ketat, yakni Amerika Serikat harus menerima draf proposal terperinci mengenai kesepakatan nuklir dari pihak Iran dalam waktu 48 jam ke depan. Pejabat tersebut mencatat bahwa pemerintahan Donald Trump dan Iran juga membuka kemungkinan untuk membahas kesepakatan sementara sebelum akhirnya merampungkan perjanjian nuklir secara penuh. Utusan Presiden Amerika Serikat, Steve Wittkopf dan Jared Kushner, dijadwalkan tiba di Jenewa pada Jumat, 27 Februari 2026, guna menindaklanjuti proses diplomasi tersebut.

Dalam putaran perundingan sebelumnya di Jenewa, Steve Wittkopf dan Jared Kushner telah meminta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk menyerahkan proposal tertulis yang mendetail dari Teheran dalam hitungan hari. Kedua utusan Amerika Serikat tersebut menyampaikan posisi Donald Trump yang secara tegas menolak pengayaan uranium di tanah Iran, namun mereka menyatakan kesediaan Washington untuk mempertimbangkan proposal Iran jika mencakup skema pengayaan uranium yang bersifat simbolis. Berdasarkan laporan Axios, Abbas Araghchi pada Jumat, 20 Februari 2026, telah mengumumkan bahwa dirinya akan menyelesaikan penyusunan proposal tersebut pada akhir pekan ini untuk kemudian diserahkan kepada Steve Wittkopf dan Jared Kushner.

Di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung, para pejabat Amerika Serikat mengklaim bahwa langkah ini kemungkinan besar merupakan kesempatan terakhir sebelum Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan militer terhadap Iran. Para penasihat Donald Trump menyebutkan bahwa sang presiden bisa saja mengubah haluan dan memerintahkan serangan ke Iran kapan saja, meskipun saat ini banyak anggota timnya yang menyarankan agar tetap bersabar. Tekanan militer ini semakin nyata seiring dengan laporan Axios yang menyebutkan bahwa opsi serangan tetap berada di atas meja jika proses diplomasi di Jenewa gagal mencapai titik temu yang diinginkan oleh pihak Washington.

Merespons ancaman tersebut, Panglima Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa negaranya kebal terhadap musuh dan tidak akan ada pihak yang mampu menelan atau menguasai Iran. Dalam upacara kelulusan mahasiswa akademi militer pada Senin, 23 Februari 2026, Amir Hatami menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam status siaga tinggi dan memperingatkan musuh agar tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun. Ia menekankan bahwa Iran akan menghadapi perang hibrida ini dengan keteguhan dan perlawanan, serta menyebut bahwa pihak musuh berada dalam ilusi jika menganggap Iran dalam posisi lemah meskipun mereka telah mengirimkan kapal perang dan senjata ke kawasan tersebut.

Panglima Angkatan Darat Iran tersebut juga menegaskan bahwa seluruh personel militer akan membela negara hingga titik darah penghabisan dan terus mempertahankan kesiapan penuh dalam menghadapi ancaman apa pun. Penegasan ini didukung oleh pernyataan Panglima Pasukan Darat Angkatan Darat Iran Kolonel Ali Jahanshahi pada Minggu, 22 Februari 2026, yang mengonfirmasi bahwa setiap pergerakan musuh di perbatasan Iran terus dipantau secara konstan. Kolonel Ali Jahanshahi menekankan bahwa kewaspadaan serta kapabilitas angkatan bersenjata Iran saat ini telah memungkinkan mereka untuk mencegah sekaligus menggagalkan setiap ancaman yang muncul di wilayah perbatasan.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency