Skip to main content

Kegagalan mobilisasi massa nampak jelas dalam pertemuan pendukung putra mahkota terakhir Iran Reza Pahlavi yang berlangsung di Munich, Jerman. Meski telah dilakukan kampanye besar-besaran selama berbulan-bulan dengan biaya fantastis serta upaya pengumpulan peserta dari berbagai kota dan negara di Eropa, acara yang diklaim sebagai representasi perlawanan tersebut justru berakhir antiklimaks. Panitia penyelenggara bahkan diketahui mendatangkan pengungsi dari Ukraina dan Suriah serta menyediakan konsumsi cuma-cuma demi menciptakan kesan kerumunan yang padat, namun kenyataan di lapangan hanya menunjukkan kehadiran beberapa ribu orang di tengah jantung Eropa. Angka ini dianggap sangat kontras dengan jutaan warga Eropa dan narasi besar yang selama ini dibangun, di mana realitas di lokasi acara terbukti jauh lebih kecil dan tidak sebanding dengan slogan-slogan yang mereka gaungkan.

Kondisi keamanan di lokasi juga menjadi sorotan saat Reza Pahlavi, yang telah mempersiapkan kampanye selama sepuluh hari untuk menyambut para pendukungnya, terpaksa berpidato di balik barikade kaca tahan peluru hanya untuk menyampaikan pernyataan singkat. Sejak tumbangnya rezim Shah Iran pada revolusi tahun 1979, putra dari penguasa terakhir Iran tersebut telah menetap di pengasingan Amerika Serikat dan terus berupaya membangun basis politik dari luar negeri untuk kembali ke panggung kekuasaan. Namun, upaya tersebut tampaknya masih sulit mendapat pengakuan internasional yang solid, sebagaimana tercermin dalam interaksi di sela-sela konferensi Munich baru-baru ini.

Dalam sebuah sesi wawancara, jurnalis Amerika Serikat Christiane Amanpour melontarkan pertanyaan tajam kepada Senator Partai Republik Lindsey Graham mengenai posisi politik Amerika Serikat terhadap gerakan ini. Christiane Amanpour mempertanyakan apakah Lindsey Graham secara terbuka memberikan dukungan kepada Reza Pahlavi yang turut hadir dalam acara tersebut, atau apakah sang senator bersedia menyatakan bahwa tokoh eksil itu merupakan sosok yang didukung oleh Washington atau faksi Republik. Menanggapi pertanyaan tersebut, Senator Lindsey Graham memberikan jawaban singkat dan tegas dengan menyatakan tidak ada dukungan semacam itu.

Situasi ini memicu kritik tajam terhadap kelompok oposisi eksil yang selama ini dikenal vokal di media sosial namun gagal membuktikan basis massa yang nyata. Kelompok yang sering melontarkan ancaman dan intimidasi daring untuk memaksakan kepatuhan rakyat Iran ini terbukti tidak mampu mengisi ruang pertemuan mereka sendiri, meski telah menggunakan taktik penyewaan massa dari Eropa hingga Meksiko melalui iming-iming uang dan makanan. Ironisnya, pihak-pihak yang kerap menuding demonstrasi jutaan rakyat di dalam negeri Iran sebagai hasil rekayasa foto atau manipulasi digital tersebut justru terlihat kesulitan dalam mengumpulkan pendukung asli maupun mengelola citra publik mereka di hadapan masyarakat internasional.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Pars Today