Skip to main content

Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman pada Selasa, 27 Januari 2026. Dalam pembicaraan tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan dan solidaritas negara-negara Islam, khususnya Kerajaan Arab Saudi, terhadap rakyat Iran di tengah berbagai peristiwa baru-baru ini. Beliau menegaskan bahwa persatuan dan kohesi di antara negara-negara Islam merupakan jaminan utama bagi terciptanya keamanan, stabilitas, dan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan. Presiden Masoud Pezeshkian menekankan bahwa pendekatan pemerintahannya didasarkan pada prinsip persaudaraan Islam untuk memperkuat hubungan persahabatan serta memperluas kerja sama regional.

Selama percakapan tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian meninjau perkembangan internasional dan regional terbaru, serta situasi internal di Iran. Beliau berbicara mengenai meningkatnya permusuhan dari Amerika Serikat dan entitas Zionis terhadap rakyat Iran, termasuk tekanan ekonomi, campur tangan langsung, serta dukungan terhadap kerusuhan yang menyebabkan gugurnya warga sipil dan personel keamanan, serta kerusakan fasilitas publik. Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pihak-pihak asing tersebut mencoba mengubah Iran menjadi seperti Suriah atau Libya, namun upaya tersebut digagalkan oleh kehadiran rakyat Iran yang sadar dan bangga akan negaranya. Beliau juga menyoroti ancaman Amerika Serikat dan perang psikologis yang hanya akan membawa ketidakstabilan lebih lanjut bagi pihak yang memulainya.

Terkait desakan negara-negara Barat agar Iran kembali ke meja perundingan, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sebelumnya telah melakukan negosiasi, namun Amerika Serikat justru meluncurkan serangan militer dan melanggar kesepakatan yang telah dicapai bersama negara-negara Eropa. Beliau menjelaskan bahwa bagi Barat, negosiasi sering kali berarti pendiktean perintah, yang tentu saja tidak bisa disebut sebagai dialog. Meskipun demikian, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Republik Islam Iran tetap menyambut jalur apa pun yang mengarah pada perdamaian dan stabilitas selama hak-hak rakyat dan kedaulatan negara tetap terjaga sesuai dengan hukum internasional.

Pangeran Muhammad bin Salman menyatakan kepuasannya atas komunikasi tersebut dan menegaskan bahwa Kerajaan Arab Saudi akan mengerahkan segala upaya untuk membangun stabilitas regional dan mendorong kemajuan bagi rakyat di kawasan. Beliau menegaskan bahwa Arab Saudi menganggap setiap agresi, ancaman, atau provokasi terhadap Republik Islam Iran sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Pangeran Muhammad bin Salman mengumumkan kesiapan Kerajaan untuk berkoordinasi dengan Iran guna membangun perdamaian abadi. Secara tegas, beliau menyatakan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udara, darat, maupun perairannya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Republik Islam Iran oleh pihak mana pun, tanpa memandang tujuannya.

Kantor Berita Arab Saudi (SPA) melaporkan bahwa dalam panggilan tersebut, Pangeran Muhammad bin Salman juga menerima penjelasan mengenai upaya pemerintah Iran dalam pembicaraan terkait berkas nuklir. Beliau menegaskan kembali posisi Riyadh dalam menghormati kedaulatan serta integritas wilayah Republik Islam Iran dan mendukung segala upaya penyelesaian perselisihan melalui dialog. Presiden Masoud Pezeshkian pun menyampaikan rasa terima kasihnya atas sikap teguh Arab Saudi tersebut, seraya menekankan bahwa solidaritas umat Islam adalah strategi paling efektif untuk menghadapi ketegangan dan ketidakstabilan di kawasan Asia Barat.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera