Kantor berita Reuters mengutip keterangan sejumlah pejabat pada Kamis, 12 Februari 2026 yang menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengumumkan rencana pendanaan bernilai miliaran dolar untuk Jalur Gaza dalam pertemuan pertama Dewan Perdamaian yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Dalam pertemuan tersebut, Donald Trump juga akan memberikan informasi terbaru mengenai pasukan stabilisasi internasional yang direncanakan akan ditempatkan di Gaza. Para pejabat tersebut mengindikasikan bahwa Donald Trump bakal mengumumkan kesediaan beberapa negara untuk mengirimkan ribuan tentara guna berpartisipasi dalam pasukan internasional tersebut, dengan estimasi kehadiran delegasi dari setidaknya 20 negara, termasuk beberapa kepala negara, pada pertemuan perdana Dewan Perdamaian tersebut.
Sebelumnya, pihak Gedung Putih telah mengumumkan nama-nama anggota Dewan Perdamaian yang bertugas mengelola Jalur Gaza pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memimpin langsung dewan tersebut dengan didampingi oleh Sekretaris Negara Amerika Serikat Marco Rubio, Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Wittkopf, Utusan Khusus Amerika Serikat Jared Kushner, serta mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Pembentukan dewan ini merupakan bagian dari upaya administrasi Donald Trump dalam menangani situasi di wilayah tersebut melalui struktur kepemimpinan yang telah ditentukan sebelumnya.
Di sisi lain, koresponden di Jalur Gaza melaporkan pada Kamis, 12 Februari 2026 mengenai kabar duka atas meninggalnya seorang tahanan Palestina bernama Hatem Rayyan di dalam penjara Israel. Hatem Rayyan merupakan warga yang berasal dari wilayah utara Jalur Gaza dan ditangkap oleh pasukan Israel di kamp Jabalia saat terjadinya konflik. Sebelum ditahan, Hatem Rayyan diketahui bekerja sebagai pengemudi ambulans di Rumah Sakit Kamal Adwan, sebuah fasilitas kesehatan yang telah berulang kali menjadi target serangan oleh pihak Israel. Kematian Hatem Rayyan menambah daftar panjang warga sipil yang kehilangan nyawa dalam masa penahanan di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.
Situasi di lapangan juga menunjukkan eskalasi serangan di mana sejumlah warga Palestina dilaporkan terluka akibat tindakan pasukan Israel di berbagai titik. Di wilayah utara Gaza, dua orang menjadi target serangan di Jabalia dan seorang wanita mengalami luka-luka di Beit Lahia. Kekerasan serupa juga terjadi di bagian selatan, tepatnya di Mawasi Khan Younis, yang mengakibatkan dua warga Palestina lainnya menderita luka-luka. Sementara itu, di area bundaran Kuwait yang terletak di sebelah selatan lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, seorang warga Palestina dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka akibat tembakan dari pihak Israel, yang menunjukkan bahwa serangan militer terhadap warga sipil masih terus terjadi di Jalur Gaza meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata.
Berdasarkan laporan statistik harian yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan di Gaza pada siang hari ini, tercatat dinamika jumlah korban yang signifikan sejak dimulainya gencatan senjata pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Sejak tanggal tersebut, Jalur Gaza telah mencatat total 591 syuhada dan 1.583 orang mengalami luka-luka, sementara 724 jenazah lainnya telah berhasil dievakuasi. Jika melihat data kumulatif sejak awal agresi pada Selasa, 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa telah mencapai 72.049 syuhada, sedangkan total warga yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 171.691 orang. Seluruh data ini mencerminkan dampak kemanusiaan yang sangat besar yang dialami oleh penduduk di Jalur Gaza selama periode genosida tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: The Straits Times


