Skip to main content

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengeluarkan pernyataan memilukan bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia, Rabu, 4 Februari 2026. Sebanyak 11.000 pasien kanker di wilayah tersebut kini benar-benar terputus dari akses pengobatan spesialis maupun layanan diagnostik, baik di dalam maupun di luar Gaza. Dari jumlah tersebut, 4.000 pasien telah mengantongi rujukan medis ke luar negeri selama lebih dari dua tahun, namun hingga kini mereka masih tertahan menunggu pembukaan pintu perbatasan.

Pihak kementerian menegaskan bahwa sumber daya untuk perawatan kanker telah terkuras habis, terutama stok obat kemoterapi dan peralatan pemindaian. Tanpa adanya deteksi dini dan pemantauan berkala, kondisi kesehatan para pasien dilaporkan merosot tajam ke titik yang katastropik. Otoritas kesehatan pun mendesak komunitas internasional untuk segera mengintervensi agar pasien dapat dievakuasi, obat-obatan esensial bisa masuk, dan pusat layanan kesehatan yang hancur dapat direhabilitasi.

Di sisi lain, Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, melaporkan bahwa lima pasien pertama beserta pendampingnya telah berhasil dievakuasi melalui gerbang Rafah menuju Mesir pada Selasa lalu. Namun, angka ini sangat kecil dibandingkan dengan lebih dari 18.000 pasien lainnya yang masih masuk dalam daftar tunggu evakuasi medis darurat akibat dampak perang pemusnahan yang dilakukan Israel.

Sementara itu, situasi keamanan di Jalur Gaza tetap membara. Eskalasi militer yang terus berlangsung telah merenggut nyawa 18 warga Palestina pada hari Rabu, termasuk 11 korban di lingkungan Al-Tuffah dan Al-Zaytoun. Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menuding pihak pendudukan sengaja menerapkan kebijakan pembunuhan dan pengepungan sistematis untuk mengusir penduduk secara paksa. Ia juga membongkar fakta bahwa klaim pembukaan kembali penyeberangan Rafah adalah sebuah kebohongan yang digunakan sebagai alat propaganda, padahal di lapangan, warga yang kembali justru mengalami pelecehan dan kekerasan oleh pasukan pendudukan serta kelompok-kelompok bersenjata.

Penyeberangan Rafah sendiri sebenarnya baru dibuka kembali pada Senin lalu setelah ditutup selama dua tahun, dengan kesepakatan kuota terbatas yaitu 150 orang keluar dan 50 orang masuk setiap harinya. Hamas mengecam keras perlakuan terhadap warga di perbatasan tersebut sebagai “kejahatan penyiksaan” dan mendesak negara-negara penjamin untuk bertindak. Hingga saat ini, meskipun gencatan senjata telah memasuki fase kedua, pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dilaporkan masih sangat ketat tanpa adanya perbaikan signifikan yang dirasakan oleh rakyat Palestina.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: UN News