Skip to main content

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dalam sidang terbuka yang digelar pada hari Minggu, 1 Februari 2026, memberikan peringatan keras kepada Uni Eropa terkait rencana penetapan Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris. Beliau menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Tindakan Timbal Balik, apabila langkah tersebut diambil, maka angkatan bersenjata negara-negara Eropa secara otomatis akan dianggap sebagai organisasi teroris oleh Republik Islam Iran. Beliau menekankan bahwa negara-negara Uni Eropa harus bersiap menanggung segala konsekuensi serius yang lahir dari keputusan tersebut.

Dalam pidatonya yang bertepatan dengan momen bersejarah kembalinya Imam Khomeini ke Iran serta dimulainya peringatan “Dahe-ye Fajr” atau Dekade Fajar—yakni periode sepuluh hari fajar kemenangan revolusi yang berlangsung dari 1 hingga 11 Februari—Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa Revolusi Islam adalah hari di mana pengaruh asing berhasil diputus dari tanah Iran. Beliau menyebut bahwa Imam Khomeini telah memulihkan keberanian sebuah bangsa yang sebelumnya harus merasakan pahitnya pendudukan Inggris, kudeta Amerika, serta hilangnya wilayah kedaulatan di bawah pemerintahan masa lalu yang tunduk dan tidak berdaya. Revolusi ini, menurut beliau, hadir untuk memastikan Iran tidak lagi “ditelan” oleh Amerika dan kekuatan arogan lainnya akibat ketakutan serta ketundukan para politisi yang hanya menjadi pelayan kepentingan asing.

Mohammad Baqer Qalibaf menekankan bahwa Iran yang kuat, independen, dan bersatu merupakan penghalang utama bagi rencana jangka panjang kekuatan hegemonik dunia. Hal inilah yang menjadi akar permusuhan terhadap Revolusi Islam, karena Iran mampu membangun negara yang kokoh dengan bersandar pada budaya nasional dan nilai-nilai Islam. Beliau mengkritik keras langkah Uni Eropa yang melontarkan tuduhan palsu terhadap Korps Garda Revolusi Islam hanya demi menuruti instruksi Presiden Amerika Serikat dan para pemimpin entitas Zionis. Tindakan tidak bertanggung jawab ini, tegas beliau, justru akan mempercepat tersingkirnya posisi Eropa dalam tatanan dunia baru yang sedang terbentuk.

Lebih lanjut, Ketua Parlemen Iran menjelaskan bahwa faksi pro-Zionis di Eropa saat ini hanya berupaya menciptakan iklim media untuk mengintimidasi rakyat Iran. Namun, beliau memastikan bahwa rakyat Iran memandang Korps Garda Revolusi Islam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas mereka. Lembaga ini bukan sekadar kekuatan militer, tetapi selalu hadir di tengah kesulitan rakyat, mulai dari penanganan bencana alam seperti banjir dan gempa bumi, perjuangan melawan pandemi COVID-19, hingga upaya rekonstruksi pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Beliau yakin bahwa kampanye hitam tersebut justru akan semakin memperkuat kohesi sosial dan dukungan publik terhadap Garda Revolusi dalam menjaga martabat serta keamanan nasional.

Beliau juga berpendapat bahwa dengan mencoba menyerang Korps Garda Revolusi Islam—yang selama ini menjadi tameng terbesar yang mencegah meluasnya terorisme ke daratan Eropa—negara-negara Eropa sebenarnya sedang “menembak kaki mereka sendiri”. Mohammad Baqer Qalibaf menyebut Uni Eropa melakukan keputusan yang bertentangan dengan kepentingan rakyatnya sendiri demi menyenangkan “tuan” mereka, Amerika Serikat, meskipun Washington telah terbukti tidak pernah menghargai para pengikutnya. Beliau menegaskan bahwa Garda Revolusi adalah institusi unik yang telah berkontribusi besar menumbangkan kekuasaan ISIS di kawasan dan telah mengorbankan ratusan syuhada dalam melawan terorisme internasional, termasuk salah satu pemimpin paling efisien, Syahid Komandan Qassem Soleimani.

Sebagai penutup, Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam akan tumbuh semakin kuat setiap harinya dengan dukungan rakyat Iran serta kaum tertindas di seluruh dunia. Beliau menegaskan bahwa permusuhan dari para pendukung terorisme dunia tidak akan sedikit pun mengurangi kekuatan Garda Revolusi. Beliau kembali mengingatkan bahwa sesuai hukum yang berlaku, jika Garda Revolusi dicap teroris, maka tentara Eropa akan menerima perlakuan yang sama sebagai organisasi teroris, dan Uni Eropa akan memikul beban tanggung jawab atas ketegangan yang tercipta.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV