Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa peperangan di kawasan bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan masih dapat dicegah melalui logika serta diplomasi. Dalam sebuah wawancara mendalam dengan CNN, beliau menyatakan bahwa meskipun Iran tidak khawatir karena telah berada dalam kesiapan penuh, kekhawatiran utamanya justru terletak pada adanya salah perhitungan serta operasi militer yang didasarkan pada penipuan dan kampanye hitam. Beliau secara spesifik menyoroti adanya pihak-pihak tertentu yang, demi kepentingan pribadi mereka, sedang berupaya keras untuk menyeret Presiden Trump ke dalam kancah peperangan dengan Iran.

Terkait prospek dialog dengan Washington, Abbas Araqchi mengakui bahwa Iran tidak memiliki pengalaman positif dalam berdialog dengan pihak Amerika Serikat di masa lalu. Beliau menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mengatasi krisis kepercayaan yang mendalam untuk mencapai negosiasi yang nyata. Saat ini, beberapa negara sahabat di kawasan sedang menjalankan peran mediasi untuk membangun kembali kepercayaan tersebut. Meski proses ini diakui sulit, Abbas Araqchi melihat adanya kemungkinan untuk membuka kembali putaran dialog baru, dengan catatan bahwa fokus utama tetap pada substansi atau isi negosiasi, bukan sekadar formalitas apakah pembicaraan dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Mengenai stabilitas regional, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa sumber dari segala ketegangan dan konflik di Timur Tengah adalah kehadiran kekuatan asing. Beliau menyatakan komitmen Iran untuk selalu berkomunikasi dengan negara-negara tetangga demi menjaga perdamaian dan keamanan kawasan. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Teluk Persia, keamanan jalur air ini adalah prioritas vital bagi Iran, terutama untuk ekspor minyak dan perdagangan. Abbas Araqchi secara khusus menyebutkan pentingnya Selat Hormuz bagi dunia dan mengapresiasi peran Korps Garda Revolusi Islam dalam menjaga keamanan serta memastikan jalur lintasan yang aman di selat strategis tersebut.

Abbas Araqchi memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan menjadi ancaman besar bagi semua pihak dan bisa berujung pada bencana global. Beliau membandingkan situasi saat ini dengan konflik sebelumnya, di mana Iran berupaya membatasi cakupan perang hanya antara Iran dan Israel. Namun, jika kali ini konflik melibatkan Amerika Serikat—mengingat banyaknya pangkalan militer Amerika yang tersebar di wilayah tersebut—maka banyak bagian dari kawasan ini yang akan terseret ke dalam pusaran konflik. “Ini sangat berbahaya, dan saya berharap logika akan menang,” tambahnya.

Mengenai kesepakatan nuklir, Abbas Araqchi menyatakan bahwa Iran menginginkan perjanjian yang adil dan setara, yang menjamin bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir—sebuah tujuan yang menurutnya sangat mungkin dicapai. Terkait tuntutan negosiasi pada isu lain seperti program rudal balistik, beliau menegaskan bahwa fokus utama harus tetap pada program nuklir Iran untuk memastikan sifatnya yang sepenuhnya damai sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi. Beliau mengajak semua pihak untuk fokus pada hal-hal yang mungkin dilakukan dan memanfaatkan kesempatan yang ada guna mencapai kesepakatan yang adil bagi Iran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Tehran Times