Skip to main content

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menantang upaya stabilitas kawasan dengan menyatakan bahwa militer Israel tidak akan menarik diri dari zona penyangga di Lebanon dan Suriah. Dalam upacara kelulusan perwira militer pada Kamis, 19 Februari 2026, ia menegaskan adanya perubahan fundamental dalam konsep keamanan Israel, di mana kebijakan “penahanan” atau containment kini telah resmi berakhir dan digantikan dengan penguasaan zona-zona penyangga secara permanen. Terkait situasi di Gaza, Netanyahu menetapkan syarat yang mustahil bagi kemanusiaan dengan menegaskan bahwa tidak akan ada proses rekonstruksi atau pembangunan kembali bangunan yang hancur sebelum “pelucutan senjata” total dilakukan terhadap Hamas dan seluruh wilayah Gaza. Pernyataan ini dipandang sebagai upaya untuk menyandera masa depan jutaan warga sipil Gaza demi ambisi militer sepihak.

Mengenai isu nuklir Iran, Netanyahu mengaku telah mendiktekan prinsip-prinsip yang menurut Israel harus menjadi panduan utama bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam setiap perundingan dengan Teheran. Ia mengklaim bahwa Israel telah bersiap menghadapi segala skenario, yang secara implisit memberikan sinyal kesiapan untuk melakukan tindakan militer sepihak jika negosiasi tersebut tidak memenuhi ambisinya. Sikap keras ini semakin memperuncing ketegangan di tengah tenggat waktu 15 hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Donald Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.

Di saat Netanyahu melontarkan retorika politiknya, pasukan pendudukan Israel terus melancarkan rangkaian serangan brutal di wilayah Lebanon pada Kamis, 19 Februari 2026. Berdasarkan laporan koresponden Al-Mayadeen, militer Israel menembakkan sedikitnya tujuh peluru artileri ke pinggiran kota Yaroun dan menggunakan tank untuk menyasar sebuah rumah penduduk di area Al-Zaqqaq, pinggiran kota Aitaroun. Selain itu, pasukan pendudukan juga melakukan rentetan tembakan senapan mesin ke arah dataran Al-Khayyam dari posisi militer baru mereka di Al-Hamams, yang dibarengi dengan serangan bom suara di kota perbatasan Adaysah untuk meneror warga sipil.

Agresi Israel tidak hanya terbatas di wilayah selatan, tetapi juga merambah ke Lembah Bekaa di bagian timur Lebanon. Pesawat tempur Israel dilaporkan melakukan serangan udara di dataran tinggi Al-Shaara di sekitar kota Nabi Sheet. Rangkaian aksi militer ini merupakan bentuk pelanggaran nyata dan berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati sejak November 2024 serta Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Tindakan ini menunjukkan bahwa Israel secara sengaja mengabaikan komitmen internasional demi memperluas agresi dan memperkuat pendudukan militer mereka di kedaulatan negara tetangga.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency