Kementerian Luar Negeri Iran melancarkan protes keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyusul serangkaian pernyataan yang dinilai sebagai campur tangan ilegal dalam urusan internal Teheran. Pemerintah Iran menyebut sikap Trump “tidak bertanggung jawab” dan merupakan kelanjutan dari pendekatan arogan Washington yang selama ini konsisten menyudutkan rakyat Iran. Teheran secara tegas menolak klaim Washington yang mengaku “peduli” terhadap nasib rakyat Iran, menyebutnya sebagai kemunafikan luar biasa yang hanya bertujuan untuk menyesatkan opini publik internasional.
Iran juga mendesak Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB untuk segera memenuhi tanggung jawab mereka dalam menghadapi tindakan sepihak Amerika Serikat yang dapat memicu ketidakstabilan global. Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kedaulatan mereka akan dibalas dengan tindakan yang cepat, tegas, dan komprehensif. Pernyataan Amerika Serikat ini dipandang Iran sebagai bagian dari skenario eskalasi ketegangan yang didorong oleh entitas Zionis guna mengacaukan kawasan Timur Tengah.
Di Markas Besar PBB, Perwakilan Tetap Iran, Amir Saeed Irvani, mengirimkan surat mendesak yang menegaskan bahwa segala bentuk dorongan atau fasilitasi terhadap kegiatan subversif di dalam sebuah negara berdaulat merupakan pelanggaran berat hukum internasional. Irvani menyoroti “paradoks yang menyakitkan” di mana pejabat AS berbicara atas nama dukungan terhadap rakyat Iran, sementara sejarah mencatat rekam jejak panjang Washington dalam intervensi militer, operasi perubahan rezim, dan penggunaan kekuatan ilegal yang mengakibatkan krisis kemanusiaan serta munculnya kelompok teroris. Iran menuntut agar AS segera menghentikan ancaman penggunaan kekuatan dan mematuhi komitmennya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Ancaman ini berawal dari pernyataan Donald Trump melalui platform Truth Social, di mana ia mengancam akan melakukan intervensi fisik jika terjadi kekerasan terhadap demonstran di Iran. Trump menyatakan bahwa militer AS telah “siap dan siaga” untuk bergerak. Sebagai respons di dalam negeri, provinsi Fars dan Hamadan di Iran menyaksikan demonstrasi massa yang justru menolak campur tangan Amerika dan mendesak pasukan keamanan Iran untuk bertindak tegas terhadap siapa pun yang mengancam stabilitas nasional.
Dukungan internasional terhadap Iran datang dari Venezuela, yang saat ini juga sedang menghadapi agresi serupa dari Washington. Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan solidaritas penuh dan menyebut ancaman AS sebagai bahaya nyata bagi perdamaian dunia. Caracas menyoroti penggunaan platform digital oleh AS untuk memicu konflik internal di Iran sebagai bagian dari apa yang dikenal dengan “Perang Generasi Kelima”. Venezuela berpendapat bahwa strategi pencekikan ekonomi melalui langkah-langkah koersif sepihak digabungkan dengan propaganda digital bertujuan untuk merusak kedaulatan Iran. Kedua negara sepakat bahwa dialog kedaulatan dan diplomasi tanpa campur tangan asing adalah satu-satunya jalan menuju stabilitas permanen.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera


