Penasihat Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam untuk Urusan Internasional, Sayyid Ali Akbar Velayati, melayangkan teguran keras kepada para penguasa Uni Emirat Arab (UEA) atas klaim berulang terkait tiga pulau Iran. Ia menegaskan bahwa kesabaran bangsa Iran “bukan tanpa batas”.
Dalam pernyataannya di platform X pada Jumat, Velayati mengatakan bahwa sudah tiba waktunya menyampaikan secara terbuka hal-hal yang selama ini Iran memilih untuk tidak ungkapkan di ruang publik. Ia kemudian mengajukan serangkaian pertanyaan tajam kepada para penguasa UEA.
Velayati bertanya, “Apa yang sebenarnya kalian lakukan di Yaman? Apakah kalian juga berambisi menguasai Selat Bab al-Mandab? Mengapa kalian menduduki Pulau Socotra? Dan bagaimana semua ini berkaitan dengan agenda maritim Amerika? Apakah kalian juga ingin mengklaim pulau itu—seperti kalian mengklaim Selat Hormuz?”
Ia menegaskan bahwa kebijakan ekspansionis UEA telah menyebabkan penderitaan luas. “Darah puluhan ribu Muslim di Yaman, dan kini di Sudan, tertumpah akibat ambisi kalian,” ujarnya. Velayati mempertanyakan kepentingan UEA di Sudan dan alasan di balik upaya yang dinilai mempercepat perpecahan negara tersebut.
Velayati juga menyinggung dugaan kerja sama Abu Dhabi dengan Inggris di wilayah tersebut, seraya menyebut bahwa tindakan-tindakan UEA memicu kecurigaan para analis mengenai upaya membangun “semacam imperium lintas batas yang semu”.
Dalam bagian paling tegas, Velayati kembali menolak klaim UEA atas tiga pulau Iran. “Apakah klaim-klaim konyol kalian mengenai pulau-pulau Iran selaras dengan kerja sama kalian dengan negara-negara kolonial? Bagaimana mungkin kalian mengklaim pulau Abu Musa—wilayah yang telah menjadi bagian dari Iran ribuan tahun sebelum berdirinya negara yang kini kalian pimpin?”
Velayati menutup pernyataannya dengan peringatan: “Kesabaran rakyat Iran bukan tak terbatas.”
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: ISNA



