Komandan manuver bersama kontraterorisme Sahand 2025, Brigadir Jenderal Vali Madani, pada Selasa, 2 Desember 2025, menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikenal luas karena rekam jejaknya dalam rekayasa keamanan dan penanganan ancaman terorisme di kawasan, serta selalu berada dalam kondisi siap menghadapi bahaya. Berbicara dalam konferensi pers menjelang latihan itu, ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran bangga menjadi tuan rumah kegiatan yang diselenggarakan oleh pasukan darat IRGC di wilayah Shabestar, Azerbaijan Timur, dua tahun setelah Iran resmi bergabung dengan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).
Madani menjelaskan bahwa latihan Sahand 2025 berawal dari mandat IRGC tahun lalu berdasarkan instruksi Letnan Jenderal Syahid Bagheri, sebelum tanggung jawab penyelenggaraan dialihkan kepada pasukan darat IRGC. Rangkaian pertemuan koordinasi telah digelar, termasuk pengiriman rencana latihan kepada Komite Eksekutif SCO di Uzbekistan, yang kemudian mengirim ketua dan sekretarisnya ke Iran untuk finalisasi persiapan.
Ia menambahkan bahwa latihan kontraterorisme merupakan agenda rutin tahunan SCO, dan bahwa Iran—bersama IRGC—kini menjadi pihak keempat yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Latihan bersama Sahand 2025 dijadwalkan berlangsung selama lima hari dengan partisipasi 18 delegasi tingkat tinggi dari negara anggota serta organisasi keamanan regional, dan diselenggarakan oleh Pasukan Darat IRGC bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri di Kabupaten Shabestar, Provinsi Azerbaijan Timur.
Pada hari yang sama, penasihat senior Panglima Tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, berbicara dalam acara peringatan syuhada di makam Sayyid Abdul Azim al-Hasani, di kota Rey, selatan Teheran. Dalam pidatonya, ia menyinggung peran para syahid dalam membangkitkan kesadaran global, seraya mengatakan bahwa perubahan sosial dan politik yang terjadi di Barat—khususnya di New York—menunjukkan bahwa opini publik tidak lagi tunduk pada narasi Zionis. Menurutnya, keimanan para syahid adalah puncak kesadaran manusia, dan keyakinan itulah yang ditakuti para musuh.
Naqdi menegaskan bahwa kekuatan utama bangsa Iran bukan terletak pada rudal, melainkan pada budaya pengorbanan dan darah para syuhada. Ia menyatakan bahwa pengalaman perlawanan dari rakyat Iran telah menginspirasi Palestina dan Lebanon, dan bahwa darah para syuhada perang Dua Belas Hari telah memunculkan gelombang kesadaran baru di seluruh dunia. Ia mengutip demonstrasi besar di ibu kota-ibu kota Barat dalam dua tahun terakhir yang menentang agresi Israel sebagai bukti meningkatnya ketidakpuasan global.
Mengomentari dinamika politik di Amerika Serikat, Naqdi mengatakan bahwa New York—yang selama puluhan tahun dianggap sebagai basis dukungan Zionis—kini mengalami perubahan besar. Ia menyoroti kemenangan seorang politisi yang menyerukan agar Benjamin Netanyahu diadili sebagai tanda perubahan tersebut. Ia juga mengaitkannya dengan hasil pemilu Irak terbaru, di mana kelompok pro-perlawanan meraih suara mayoritas, yang menurutnya menunjukkan bahwa masyarakat kawasan telah memilih jalannya sendiri.
Menutup pidatonya, Naqdi menekankan tanggung jawab budaya keluarga dan institusi pendidikan dalam membentuk generasi yang mempertahankan nilai-nilai para syuhada. Ia mengatakan bahwa musuh takut pada warisan para syahid dan berusaha mencegah lahirnya generasi yang meneruskan jalan mereka. Naqdi menegaskan bahwa manusia diciptakan bebas dan tidak boleh tunduk pada penindas, dan bahwa kekuatan besar takut pada kebenaran tersebut.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: IRNA



