Skip to main content

Ribuan warga Palestina menghadiri prosesi pemakaman tiga jurnalis yang gugur akibat serangan udara Israel saat sedang menjalankan tugas peliputan di Jalur Gaza pada Kamis, 22 Januari 2026. Ketiga martir tersebut, yakni Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Samir Shaat, dan Anas Abdullah Ghneim, merupakan pekerja media untuk Komite Mesir untuk Bantuan Gaza. Mereka menjadi target serangan langsung saat sedang mendokumentasikan kondisi di salah satu kamp pengungsian di dekat Rumah Sakit Amerika, Kota Al-Zahra. Saksi mata melaporkan bahwa jenazah para jurnalis tiba di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis dalam kondisi hangus akibat ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka secara total.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, pelanggaran oleh militer Israel terus terjadi hampir setiap hari. Situasi semakin memburuk setelah utusan Gedung Putih Steve Wittkopf mengumumkan dimulainya fase kedua kesepakatan pada pertengahan Januari 2026, yang justru diikuti dengan peningkatan intensitas serangan udara Israel hingga menewaskan sedikitnya 12 warga sipil dalam satu hari. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak gencatan senjata resmi dimulai, jumlah korban tewas telah mencapai 477 jiwa dengan 1.301 orang terluka, sementara lebih dari 700 jenazah baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan. Secara akumulatif sejak Oktober 2023, total korban jiwa telah menembus angka 71.562 martir dengan lebih dari 171.000 orang menderita luka-luka.

Di tengah gempuran militer, krisis kemanusiaan di Gaza diperparah oleh cuaca musim dingin yang ekstrem. Organisasi Doctors Without Borders memperingatkan adanya ancaman kematian massal akibat kedinginan bagi ribuan keluarga yang terpaksa tinggal di tenda-tenda plastik yang sudah rusak. Tragedi memilukan kembali terjadi dengan meninggalnya bayi berusia tiga bulan bernama Ali Abu Zur di Kota Gaza akibat suhu dingin yang membeku, menjadikannya anak kesepuluh yang meninggal karena cuaca ekstrem sejak awal musim dingin ini. Minimnya bantuan pemanas dan blokade yang telah berlangsung selama 18 tahun membuat situasi di lapangan digambarkan sebagai katastrofe nyata yang mengancam nyawa ribuan pasien dan anak-anak.

Secara politik, gerakan perlawanan Hamas mengeluarkan kecaman keras atas masuknya nama Benjamin Netanyahu ke dalam struktur Dewan Perdamaian yang digagas Amerika Serikat. Hamas menilai keterlibatan Benjamin Netanyahu, yang merupakan buronan Mahkamah Pidana Internasional, sebagai penghinaan terhadap prinsip keadilan internasional. Hamas menegaskan bahwa Benjamin Netanyahu secara konsisten terus menghalangi implementasi penuh gencatan senjata dan melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil melalui penargetan kawasan pemukiman. Hamas menekankan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat tercapai jika para pemimpin pendudukan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan terorisme dan kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera