Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, menegaskan bahwa agresi militer Israel secara nyata telah gagal total dan tidak mampu mencapai target-target strategisnya di Lebanon. Dalam pidatonya di Dewan Asyura Pusat pada Senin, 22 Juni 2026, beliau mengungkapkan bahwa entitas pendudukan telah melancarkan sekitar 10.000 serangan udara dalam apa yang disebut sebagai operasi militer mereka di Lebanon. Namun, beliau menekankan bahwa terlepas dari besarnya skala serangan dan pengorbanan yang diberikan, perlawanan Islam tetap berdiri kokoh dan tangguh di lapangan, sementara pihak musuh hanya bisa terus berspekulasi dan bertaruh pada perubahan situasi politik.
Syeikh Naim Qassem memberikan klarifikasi mendalam mengenai definisi gencatan senjata yang dapat diterima oleh pihak perlawanan. Beliau menegaskan bahwa tidak ada istilah “gencatan senjata” jika Israel tetap diberikan kebebasan bergerak atau ruang untuk meluncurkan serangan sepihak. Bagi Hizbullah, gencatan senjata yang sah harus bermakna sebagai penghentian total dan menyeluruh terhadap segala bentuk agresi—baik dari udara, darat, maupun laut—serta tidak adanya kehadiran, pergerakan maju, ataupun pembongkaran bangunan oleh militer Israel di dalam wilayah yang diduduki, guna membuka jalan bagi penarikan mundur pasukan musuh secara penuh. Beliau mempertegas bahwa formula gencatan senjata yang memberi kebebasan bagi pergerakan militer Israel hanyalah kedok untuk melanjutkan agresi, dan pihak perlawanan secara mutlak menolak hal tersebut, sebagaimana mereka konsisten menolaknya selama periode 15 bulan terakhir serta pasca-perjanjian gencatan senjata 27 November 2024 lalu.
Lebih lanjut, Syeikh Naim Qassem menyatakan bahwa Hizbullah hanya akan mematuhi opsi gencatan senjata yang berada di bawah tajuk “penghentian agresi secara komprehensif”. Terhadap setiap bentuk pelanggaran batas yang dilakukan oleh musuh, beliau menegaskan bahwa perlawanan tidak akan tinggal diam dan siap menghadapi serta menindaknya dengan cara yang dianggap paling sesuai di lapangan. Beliau menyatakan secara lugas bahwa garis batas toleransi Hizbullah telah berubah, dengan menegaskan bahwa pihak perlawanan telah sepenuhnya menyudahi dan menutup buku terhadap formula situasi yang berlaku sebelum tanggal 2 Maret lalu. Beliau juga memastikan bahwa pendudukan kembali atas tanah Lebanon oleh militer Israel adalah hal yang mustahil dan menolak keras adanya pembentukan “zona keamanan” sepihak oleh musuh. Syeikh Naim Qassem menegaskan bahwa Lebanon memiliki tentara nasional yang bertugas melakukan pengerahan pasukan di lapangan serta bertanggung jawab penuh dalam menjaga kedaulatan negara.
Menyikapi peran politik luar negeri, Syeikh Naim Qassem menyoroti kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Beliau berpandangan bahwa Donald Trump sebenarnya memiliki pengaruh dan kapasitas penuh untuk memaksa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar tunduk pada koridor perdamaian jika Washington memang menghendakinya. Beliau menyatakan bahwa hanya orang bodoh yang berpikir bahwa Donald Trump tidak mampu menghentikan entitas Zionis tersebut. Oleh karena itu, beliau menuntut agar Amerika Serikat segera menyudahi proyek perluasan wilayah Israel, mengingat entitas tersebut bertindak sebagai agresor yang harus segera hengkang dari tanah Lebanon.
Pada bagian lain pidatonya, Syeikh Naim Qassem memaparkan runtuhnya proyek bersama Amerika Serikat-Israel yang semula dirancang untuk melenyapkan pengaruh Iran, Hizbullah, dan seluruh front perlawanan di Timur Tengah. Kegagalan total skenario Barat tersebut membawa kawasan masuk ke dalam fase baru yang beliau sebut sebagai “fase hasil dari hancurnya proyek Amerika-Zionist”. Beliau mengekspresikan keyakinan mendalam bahwa entitas Israel pada akhirnya akan runtuh dari dalam karena ketidakadilan kemanusiaan yang mereka lakukan sudah berada di luar batas toleransi umat manusia. Sebaliknya, beliau menilai Republik Islam Iran justru keluar dari krisis ini dengan posisi yang jauh lebih kuat berkat pengorbanan besar rakyatnya, sekaligus membuktikan bahwa Teheran tidak akan pernah menggadaikan hak-hak kedaulatannya.
Menutup pidatonya, Syeikh Naim Qassem menyampaikan pesan strategis yang diarahkan langsung kepada pemerintah dan otoritas politik di Beirut agar bersedia melihat kekuatan besar yang dimiliki oleh Iran sebagai aset nasional pelindung kedaulatan negara. Beliau mencontohkannya dengan merujuk pada keputusan berani militer Iran yang sampai rela menutup total Selat Hormuz demi membela kepentingan dan keselamatan Lebanon dari agresi Barat. Beliau mempertanyakan kegagalan diplomasi masa lalu dengan melontarkan pertanyaan reflektif mengenai apa yang telah dicapai oleh koridor negosiasi langsung dengan musuh selama ini selain hanya menghasilkan konsesi-konsesi yang merugikan kedaulatan Lebanon. Oleh karena itu, beliau mendesak otoritas politik Lebanon untuk segera mengambil keuntungan dari nota kesepahaman strategis dengan Iran, seraya mengingatkan bahwa negara sekelas Amerika Serikat pun kini harus membuka jalur penyelesaian situasi politik mereka dengan Teheran. Beliau menyerukan agar pihak-pihak yang dahulu memerintahkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran segera memulihkan hubungan bilateral tersebut, demi mewujudkan kemakmuran Lebanon yang hanya bisa tumbuh melalui semangat koeksistensi internal tanpa adanya intervensi asing ataupun ketergantungan pada bantuan luar negeri.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Times of Israel


