Skip to main content

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers mingguannya pada Selasa, 24 Februari 2026, secara tegas membantah laporan media mengenai tercapainya kesepakatan sementara dengan Amerika Serikat dan menyebut spekulasi tersebut sama sekali tidak berdasar. Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa Iran terus memantau proses negosiasi dengan sangat cermat dan telah menegaskan kesiapannya untuk melanjutkan pembicaraan tanpa henti selama berminggu-minggu hingga hasil yang diinginkan tercapai, daripada melakukan perundingan berkala setiap sepuluh hari yang dinilai tidak efektif. Ia menekankan bahwa negosiasi yang produktif harus membuahkan hasil nyata dan kebijaksanaan menuntut percepatan langkah-langkah untuk mencabut sanksi yang tidak adil. Teheran saat ini tengah merumuskan posisi dan sudut pandangnya secara jelas mengenai penyelesaian masalah nuklir, serta menyatakan harapan agar putaran pembicaraan baru dapat segera dilaksanakan dalam kurun waktu dua atau tiga hari mendatang.

Terkait dengan pendekatan negosiasi, Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa setiap upaya yang bertujuan untuk memaksakan konsesi sepihak tidak akan membuahkan hasil karena Iran tetap serius dan teguh pada jalur diplomasi berdasarkan keyakinan akan kebenaran posisinya. Kepercayaan diri Iran dalam menghadapi tuntutan Amerika Serikat yang berlebihan bersumber dari sejarah dan budaya bangsa Iran yang memandang konsep menyerah sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Ia juga mengklarifikasi bahwa seluruh penanganan berkas nuklir dilakukan sesuai dengan keputusan yang diambil di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dengan partisipasi seluruh lembaga terkait yang mempresentasikan pandangan mereka, di mana keputusan akhir tetap berada di bawah kerangka dewan tersebut. Mengenai pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tentang Protokol Tambahan, Esmaeil Baghaei menjelaskan bahwa implementasi sukarela protokol tersebut di masa lalu dapat terulang kembali asalkan ada tindakan timbal balik yang setimpal dalam hal pencabutan sanksi, mengingat protokol tersebut berfungsi sebagai jaminan bagi program nuklir damai Iran berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Esmaeil Baghaei juga memberikan tanggapan keras terhadap langkah Uni Eropa yang menetapkan angkatan bersenjata Iran sebagai entitas teroris, yang dinilainya melanggar prinsip dasar hukum internasional dan merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Sebagai respons, Iran akan menerapkan prinsip timbal balik sehingga pasukan Eropa di kawasan tersebut akan diperlakukan dengan cara yang sama beserta segala konsekuensinya. Di tingkat regional, ia menyinggung hubungan dengan Afghanistan yang didasarkan pada rasa hormat serta kerja sama dalam isu keamanan, air, dan narkotika, sembari menyatakan bahwa pengakuan terhadap pemerintahan Taliban merupakan masalah kedaulatan politik yang masih dalam tahap diskusi. Terhadap ancaman pejabat Israel mengenai konfrontasi dengan apa yang mereka sebut sebagai poros Syiah, Esmaeil Baghaei mengibaratkannya seperti iblis yang memimpikan surga karena ancaman tersebut sangat tidak realistis, sembari memperingatkan negara-negara tetangga bahwa Israel adalah pengganggu terbesar yang tidak membedakan antara Syiah maupun Sunnah dalam ambisinya menguasai seluruh kawasan.

Mengenai pengawasan nuklir, Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa Iran tidak menetapkan prasyarat bagi kunjungan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), namun ia menggarisbawahi bahwa kunjungan ke fasilitas yang terdampak memerlukan mekanisme baru karena tidak ada aturan inspeksi spesifik untuk lokasi semacam itu. Keterlibatan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dalam putaran negosiasi berikutnya juga masih dalam tahap pembahasan. Sementara itu, terkait ancaman perang dari Amerika Serikat, Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa setiap agresi militer akan dihadapi dengan tanggapan tegas dari pasukan Iran yang bersiaga penuh setiap saat untuk membela kesatuan negara. Ia juga menyebutkan bahwa diplomasi ekonomi tetap menjadi prioritas dengan rencana operasional Bank VTB Rusia di Iran yang tengah diproses secara resmi koordinasi. Mengenai pernyataan Steve Wittkopf tentang tingkat pengayaan nol persen, Esmaeil Baghaei menilai hal tersebut tidak berdasar dan kontradiksi dalam pernyataan pejabat Amerika Serikat merupakan hambatan besar bagi proses negosiasi. Ia juga mengapresiasi sikap negara-negara seperti Inggris yang menolak penggunaan wilayahnya untuk serangan terhadap Iran, sembari menekankan bahwa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak harus memulihkan hak-hak rakyat Iran yang dirampas oleh sanksi serta menghormati hak nuklir damai Iran sebagai bagian integral dari setiap perundingan.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Tehran Times