Gerakan Perlawanan Islam Hamas saat ini telah memasuki tahap akhir dari proses pemilihan internal untuk memilih ketua biro politik yang baru, di mana persaingan kini mengerucut pada dua pemimpin terkemuka, yaitu Khalil al-Hayya dan Khaled Meshaal. Berdasarkan keterangan resmi seorang pejabat Hamas kepada kantor berita AFP pada Senin, 23 Februari 2026, gerakan tersebut telah menyelesaikan pemilihan internal di tiga wilayah utama dan sedang merampungkan proses penentuan pemimpin tertinggi. Pengumuman mengenai sosok yang terpilih diperkirakan akan dirilis secara resmi dalam waktu dekat, kemungkinan besar masih di dalam suasana bulan suci Ramadan tahun ini.
Dua sumber di internal Hamas menjelaskan bahwa pemimpin baru yang terpilih nantinya akan menjabat sebagai ketua biro politik selama satu tahun dalam siklus pemilihan luar biasa. Setelah masa jabatan transisi tersebut berakhir, Hamas akan mengorganisir pemilihan kembali untuk struktur kepemimpinan, kerangka konsultatif, dan badan kepemimpinan baru untuk masa jabatan reguler selama empat tahun. Langkah pemilihan ini diambil bertujuan untuk memperbarui legitimasi internal serta mengisi kekosongan kepemimpinan setelah Israel melakukan pembunuhan terhadap puluhan anggota biro politik, dewan Syura, serta komandan lapangan dalam rangkaian agresi militer sebelumnya.
Khaled Meshaal, yang saat ini menjabat sebagai ketua Hamas di luar negeri, lahir di desa Silwad, wilayah pendudukan Tepi Barat, pada tahun 1956 dan merupakan mantan ketua biro politik sebelumnya yang dikenal oleh sejumlah kalangan internal sebagai sosok yang pragmatis dan moderat. Sementara itu, Khalil al-Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960 dan saat ini memimpin gerakan tersebut di Jalur Gaza sekaligus menjadi ketua delegasi negosiasi Hamas. Menurut sumber gerakan tersebut, Khalil al-Hayya mendapatkan dukungan kuat dari sayap militer Hamas di Gaza. Pemimpin baru yang terpilih nantinya akan menghadapi tantangan besar untuk mendamaikan tuntutan pihak internasional, terutama Amerika Serikat dan Israel yang mendesak pelucutan senjata, dengan sikap keras sayap militer gerakan yang menolak keras penyerahan senjata meskipun tetap berjanji untuk memfasilitasi transisi kekuasaan sipil.
Proses kepemimpinan Hamas telah mengalami dinamika yang berat setelah pembunuhan mantan pemimpin Ismail Haniyeh pada Juli 2024, yang kemudian digantikan oleh Yahya Sinwar hingga ia gugur dalam pertempuran dengan pasukan Israel di Rafah pada Oktober 2024. Setelah kesyahidan Yahya Sinwar, kepemimpinan Hamas dijalankan secara kolektif oleh dewan kepemimpinan yang terdiri dari lima tokoh utama di bawah koordinasi Ketua Dewan Syura Umum Hamas Muhammad Darwish. Pemilihan kali ini menjadi momentum krusial bagi Hamas untuk mengonsolidasikan struktur organisasi mereka di tengah tekanan agresi militer yang masih terus berlangsung.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Roya News



