Skip to main content

Komandan Penerbangan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Qassem Khamoushi, menyinggung perang 12 hari dan menegaskan bahwa musuh menyerang dengan sebuah rencana yang telah disiapkan selama 20 tahun untuk menghancurkan Republik Islam Iran. Namun, berkat persatuan rakyat, kohesi nasional, serta kepemimpinan Pemimpin Revolusi Islam, seluruh rencana tersebut berhasil digagalkan.

Berbicara dalam acara peringatan untuk syahid Ahmad Kashouri di kota Simorgh, Provinsi Mazandaran, Iran utara, Brigadir Jenderal Khamoushi meninjau empat perang besar dalam sejarah Iran modern.

Ia menjelaskan bahwa dalam Perang Dunia I, Iran diduduki dan lebih dari 9 juta penduduknya meninggal akibat kelaparan. Pada Perang Dunia II, meskipun telah menyatakan netralitas, Iran kembali diduduki dan sekitar empat juta orang kembali menjadi korban kelaparan.

Mengenai Perang Delapan Tahun (1980–1988), Khamoushi menegaskan bahwa meskipun rezim Ba’ath Irak didukung oleh kekuatan-kekuatan besar dunia, musuh tidak berhasil merebut sejengkal pun wilayah Iran, dan jumlah syuhada dalam pertahanan suci itu berada di bawah dua ratus ribu orang. Ia menekankan bahwa kemenangan tersebut dicapai berkat kearifan Imam Rahbar (semoga Allah meridainya) dan pengorbanan para syuhada.

Berbicara tentang perang 12 hari, Khamoushi menyatakan bahwa musuh melancarkan agresi berdasarkan sebuah rencana jangka panjang yang disiapkan selama dua dekade untuk menghancurkan Republik Islam. Namun, “berkat persatuan rakyat, kohesi internal, dan bimbingan Pemimpin Revolusi, seluruh rencana mereka runtuh.”

Ia menambahkan bahwa dalam perang ini, musuh menargetkan para ilmuwan dan elite sains Iran, yang menurutnya menunjukkan “kedegilan dan kepengecutan sistem hegemoni.” Khamoushi juga menyebutkan bahwa dalam satu operasi, Iran meluncurkan 70 rudal ke arah entitas Zionis sebagai bentuk pencegahan terhadap kehadiran musuh yang memasuki medan konfrontasi dengan teknologi tercanggih.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Tehran Times