Pasukan pendudukan Israel menembak mati seorang pemuda Palestina pada Jumat dini hari, 5 Juni 2026, di desa Beitin yang terletak di timur Ramallah, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa korban tewas merupakan seorang remaja berusia 18 tahun bernama Haitham Ezzedine Omar Hmeida. Pihak kementerian mendapatkan kepastian mengenai kematian korban setelah menerima informasi resmi dari Otoritas Umum untuk Urusan Sipil Palestina, yang juga menyatakan bahwa pasukan Israel saat ini menahan jenazah pemuda tersebut dan menolak untuk menyerahkannya kepada pihak keluarga.
Berdasarkan laporan kantor berita resmi Palestina, WAFA, insiden tragis ini bermula ketika pasukan pendudukan melakukan penyergapan dan menyerbu masuk ke dalam desa Beitin secara agresif. Langkah provokatif tersebut segera memicu bentrokan sengit dengan warga setempat yang berusaha mempertahankan lingkungan mereka. Dalam konfrontasi itu, tentara Israel melepaskan tembakan beruntun menggunakan amunisi tajam, gas air mata, serta bom suara ke arah kerumunan warga. Intensitas tembakan dan ledakan dari bom suara tersebut bahkan memicu kebakaran yang cukup luas di sebuah lahan pertanian yang berada tepat di tengah-center desa.
Di tengah situasi genting tersebut, pasukan pendudukan juga secara sengaja menghalangi misi kemanusiaan tim medis di lapangan. Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa kru ambulans mereka sempat menerima laporan mengenai adanya korban cedera parah akibat tembakan di dekat pos pemukiman ilegal “Beit El”. Namun, saat armada medis mencoba mendekati lokasi untuk memberikan pertolongan pertama, tentara Israel mengadang dan melarang keras tim penyelamat menjangkau korban yang sedang dalam kondisi kritis. Otoritas militer di lokasi juga menolak menyerahkan tubuh Haitham yang telah gugur kepada kru ambulans, dan justru mengusir paksa tim medis agar segera meninggalkan area tersebut di bawah ancaman senjata.
Peristiwa di desa Beitin ini menambah panjang daftar eskalasi kekerasan dan operasi penyerbuan yang terus dilancarkan oleh militer serta kelompok pemukim ilegal Israel di berbagai kota dan kota kecil di seluruh penjuru Tepi Barat. Berdasarkan data statistik terbaru yang dihimpun oleh otoritas Palestina, jumlah korban jiwa di Tepi Barat telah mencapai sedikitnya 1.076 orang Palestina yang gugur akibat tembakan pasukan Israel maupun serangan brutal pemukim sejak awal agresi besar-besaran di Jalur Gaza pada Oktober 2023 silam. Situasi keamanan di wilayah pendudukan terus memburuk seiring dengan masifnya aksi penangkapan sepihak serta pembatasan ruang gerak warga sipil secara harian.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Demócrata



