Agresi militer Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa setelah serangkaian serangan udara dan helikopter diluncurkan pada Kamis dan Jumat dini hari, 5 Juni 2026. Menurut laporan koresponden Al-Mayadeen, sebuah serangan helikopter Israel yang membidik tenda pengungsian di bagian barat Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, mengakibatkan seorang wanita Palestina gugur dan 15 warga lainnya mengalami luka-luka. Kompleksitas serangan di area pengungsian ini memperparah krisis kemanusiaan di wilayah selatan yang menjadi titik konsentrasi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengonfirmasi bahwa rentetan serangan pada hari Kamis telah menewaskan sedikitnya 11 warga sipil di beberapa titik terpisah. Di Gaza utara, sembilan orang gugur akibat serangan udara yang menghantam apartemen-apartemen residensial di kawasan barat laut dan timur laut Kota Gaza. Salah satu serangan udara tersebut secara spesifik menghancurkan sebuah unit hunian di lingkungan Tel al-Hawa. Di samping itu, penggunaan drone tempur di sektor barat daya dan pusat kota juga merenggut dua nyawa tambahan serta menyebabkan 15 orang terluka, memperpanjang daftar korban cedera yang harus dievakuasi oleh tim penyelamat di tengah keterbatasan fasilitas medis.
Rangkaian serangan udara ini menambah panjang catatan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang secara resmi telah berlaku sejak 11 Oktober lalu. Meskipun kesepakatan tersebut dibentuk untuk menghentikan perang yang pecah sejak 7 Oktober 2023, pasukan pendudukan Israel tetap melanjutkan operasi ofensif hampir setiap hari di seluruh wilayah kantong yang terisolasi tersebut. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan dampak destruktif dari operasi berkepanjangan ini, di mana lebih dari 900 warga Palestina dilaporkan gugur akibat tembakan militer Israel terhitung sejak tanggal pemberlakuan gencatan senjata hingga saat ini.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: BBC



