Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan pernyataan optimis menjelang dimulainya putaran ketiga perundingan nuklir dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026. Melalui pernyataan resmi di platform X (dahulu Twitter) pada Selasa, 24 Februari 2026, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan pembicaraan berdasarkan pemahaman yang telah dicapai pada putaran sebelumnya dengan tekad kuat untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata dalam waktu sesingkat mungkin. Ia menyatakan bahwa Iran saat ini memiliki “kesempatan bersejarah” untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mampu menjawab kekhawatiran bersama serta melindungi kepentingan kedua belah pihak. Menurutnya, sebuah kesepakatan kini berada dalam jangkauan, asalkan jalur diplomasi diberikan prioritas utama oleh semua pihak yang terlibat.
Abbas Araghchi menggarisbawahi posisi fundamental Iran yang tidak akan pernah berubah, yaitu bahwa Teheran tidak akan pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir dalam kondisi apa pun. Namun, di saat yang sama, ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan pernah menyerahkan hak kedaulatan mereka untuk menikmati manfaat teknologi nuklir damai bagi kemajuan bangsa. “Kami telah membuktikan bahwa kami tidak akan menyisihkan upaya apa pun dalam melindungi kedaulatan kami. Kami akan membawa keberanian yang sama ke meja perundingan, di mana kami akan berjuang untuk mencapai solusi damai bagi setiap perselisihan,” tulisnya. Pernyataan ini dipandang sebagai pesan ganda yang menggabungkan kesiapan tempur untuk membela kedaulatan dengan ketulusan untuk menempuh jalur diplomatik guna menghindari konfrontasi militer yang lebih luas.
Sejalan dengan semangat tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi menyampaikan peringatan keras dalam pertemuan tingkat tinggi Konferensi Pelucutan Senjata di Jenewa pada Senin, 23 Februari 2026. Ia menekankan bahwa dampak dari setiap peperangan melawan Iran tidak akan pernah terbatas pada kedua belah pihak saja, melainkan akan meluas dan menghancurkan kestabilan negara-negara lain serta pihak-pihak di seluruh kawasan. Kazem Gharibabadi secara tajam memperingatkan bahwa musuh mungkin saja mampu memulai perang melawan Iran, namun mereka dipastikan tidak akan memiliki kendali untuk mengakhirinya. Ia menyatakan bahwa kegagalan agresi militer di masa lalu mendorong musuh-musuh Iran untuk mencoba memicu kekacauan internal dan menyalahgunakan protes damai sebagai dalih bagi agresi militer baru yang tengah direncanakan saat ini.
Dalam pidatonya di forum Jenewa tersebut, Kazem Gharibabadi secara kategoris menolak segala tuduhan mengenai ambisi militer dalam program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa program tersebut sepenuhnya dipandu oleh kewajiban hukum internasional serta prinsip ideologis dan moral negara yang menolak keberadaan senjata pemusnah massal. Ia mengkritik keras adanya standar ganda dalam implementasi komitmen pelucutan senjata dan menuntut agar negara-negara pemilik senjata nuklir segera memenuhi kewajiban mereka sesuai Pasal 6 Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Ia menambahkan bahwa kemajuan nyata dalam non-proliferasi nuklir hanya dapat dicapai melalui komitmen yang seimbang, timbal balik, dan mengikat bagi semua pihak tanpa terkecuali.
Menutup pernyataannya, Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa meskipun Iran memilih jalur diplomasi sebagai prioritas utama untuk meredakan ketegangan, Republik Islam Iran tetap berada dalam kondisi persiapan penuh untuk membela kedaulatan, integritas wilayah, dan rakyatnya. Ia menyatakan bahwa jika diperlukan, Iran akan menggunakan hak inherennya untuk membela diri sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Proses perundingan di Jenewa yang akan berlanjut pada Kamis mendatang dipandang sebagai peluang krusial untuk membangun kembali kepercayaan yang telah lama hilang, dengan syarat bahwa setiap diskusi harus didasarkan pada rasa hormat yang setara, perlakuan yang adil, serta penerapan aturan internasional secara non-selektif terhadap semua negara.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



