Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan laporan terbaru mengenai situasi kemanusiaan yang terus memburuk akibat agresi militer Israel yang masih berlangsung. Hingga Minggu, 22 Februari 2026, kementerian melaporkan bahwa satu orang kembali gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka setelah dilarikan ke berbagai rumah sakit di wilayah tersebut dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Kondisi di lapangan dilaporkan sangat memprihatinkan karena sejumlah besar korban tewas masih tertahan di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di jalanan tanpa bisa dievakuasi. Tim ambulans serta petugas pertahanan sipil menghadapi kendala besar dan tidak mampu menjangkau para korban tersebut akibat intensitas serangan serta blokade yang terus diterapkan oleh pasukan pendudukan.
Dalam konteks pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya telah diumumkan, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat angka kematian yang terus melonjak secara signifikan. Sejak kesepakatan gencatan senjata tersebut mulai disosialisasikan, jumlah warga Palestina yang gugur telah mencapai 615 orang, sementara jumlah korban luka-luka tercatat sebanyak 1.651 orang. Di tengah situasi darurat medis ini, terdapat 726 pasien yang dilaporkan berhasil melewati masa kritis dan dinyatakan sembuh. Namun, pencapaian medis tersebut tidak sebanding dengan laju penambahan korban akibat serangan udara maupun darat yang terus menghantam pemukiman sipil di Jalur Gaza.
Secara akumulatif, sejak dimulainya agresi besar-besaran di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, jumlah total korban jiwa telah menembus angka 72.073 orang. Selain itu, tercatat sebanyak 171.749 orang mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan. Angka-angka ini mencerminkan skala kehancuran yang luar biasa selama lebih dari dua tahun konflik berlangsung. Serangan-serangan dari pihak militer Israel tetap berlanjut meskipun terdapat tekanan internasional dan upaya mediasi, yang pada praktiknya terus diabaikan melalui berbagai bentuk pelanggaran kesepakatan di lapangan.
Pengepungan total yang masih diterapkan terhadap Jalur Gaza semakin memperparah krisis kemanusiaan, di mana fasilitas kesehatan mengalami kelangkaan pasokan obat-obatan dan bahan bakar untuk menjalankan alat medis vital. Pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pihak pendudukan tidak hanya menambah jumlah daftar korban, tetapi juga menghambat proses distribusi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh jutaan warga yang mengungsi. Situasi ini menempatkan warga sipil Gaza dalam kondisi kerentanan yang ekstrem, di mana rasa aman tidak lagi dapat ditemukan bahkan di tengah periode yang seharusnya menjadi masa penghentian permusuhan.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



