Menteri Luar Negeri Venezuela Yván Gil menyampaikan pernyataan yang sangat keras di hadapan sesi ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa pada Selasa, 24 Februari 2026. Dalam pidatonya, Yván Gil menegaskan bahwa negaranya saat ini sedang menjadi target operasi militer besar-besaran yang digerakkan oleh kepentingan politik dan ekonomi asing. Ia secara resmi menuntut pengakhiran segera atas semua tindakan koersif sepihak serta pembebasan tanpa syarat bagi Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Yván Gil menegaskan kehadirannya di forum tersebut mewakili Venezuela sebagai negara yang berdaulat, bebas, dan damai atas nama Nicolas Maduro serta Wakil Presiden Delcy Rodriguez, sembari menekankan bahwa eksploitasi isu hak asasi manusia sebagai alat politik untuk menekan negara-negara berkembang harus segera dihentikan.
Yván Gil memberikan rincian mendalam mengenai peristiwa tragis yang terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026, yang disebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Venezuela. Ia melaporkan bahwa agresi militer tersebut telah mengakibatkan lebih dari seratus orang tewas dan bertujuan utama untuk menahan Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, secara ilegal. Menteri Luar Negeri Venezuela tersebut menggambarkan bahwa rakyatnya telah menjadi korban pelanggaran sistematis akibat sanksi sepihak dan kekerasan militer yang baru saja terjadi. Dalam forum internasional tersebut, ia mendesak masyarakat dunia untuk mengadopsi agenda hak asasi manusia yang imparsial dan menghormati sepenuhnya kedaulatan negara tanpa campur tangan militer maupun ekonomi dari kekuatan eksternal.
Meskipun sedang berada dalam situasi agresi yang sangat berat, Yván Gil menyatakan bahwa pihak Caracas tetap memutuskan untuk membuka saluran dialog dan kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat. Namun, ia menggarisbawahi bahwa keterbukaan tersebut tetap berpegang teguh pada prinsip pertahanan kedaulatan nasional dan tidak akan pernah mengompromikan hak-hak rakyat Venezuela untuk menentukan nasib mereka sendiri. Ia menyampaikan bahwa diplomasi adalah jalan yang tetap diupayakan oleh Venezuela demi memulihkan stabilitas negara di tengah krisis yang dipicu oleh tindakan militer Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.
Di sela-sela sidang Dewan HAM PBB tersebut, Yván Gil juga mengadakan pertemuan penting dengan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan solidaritas antara kedua negara yang memiliki kesamaan pandangan dalam membela kedaulatan serta hak penentuan nasib sendiri. Keduanya sepakat untuk terus saling mendukung di panggung internasional guna melawan segala bentuk tekanan eksternal dan intervensi militer yang mengancam stabilitas kawasan Amerika Latin.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



