Juru bicara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebi, memberikan peringatan keras bahwa Teheran masih menyimpan banyak kemampuan militer strategis yang belum diungkap ke publik. Mohebi menegaskan bahwa jika perang terus berlanjut, Iran akan memunculkan metode pertempuran modern serta teknologi pertahanan yang tidak pernah dibayangkan oleh musuh dan tidak akan mampu mereka hadapi. Pernyataan ini muncul sebagai bentuk ketegasan Iran setelah tuntutan “berlebihan” dari Amerika Serikat menyebabkan kebuntuan dalam upaya mencapai kesepakatan permanen di Islamabad.
Sejalan dengan ancaman tersebut, Komandan Pasukan Darat IRGC, Brigadir Jenderal Mohammad Karami, mengonfirmasi pada Senin, 13 April 2026, bahwa unit-unit darat angkatan bersenjata Iran telah membangun sabuk keamanan berlapis yang sangat kuat. Karami menjelaskan bahwa kebingungan yang dialami musuh di medan tempur merupakan hasil nyata dari kesiapan unit tempur Iran. Ia menjuluki Iran sebagai “penjara dan rawa” bagi setiap agresor, sembari merujuk pada kekalahan memalukan pasukan Amerika Serikat dalam bentrokan di Isfahan sebagai bukti nyata ketangguhan pertahanan Iran. Insiden Isfahan sendiri terjadi ketika pasukan Iran memukul mundur jet tempur Amerika yang diklaim sedang melakukan misi pencarian pilot yang jatuh.
Di sisi lain, ancaman Presiden Donald Trump untuk memberlakukan blokade pelayaran di Selat Hormuz mendapat kecaman keras dari Teheran dan minim dukungan internasional. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa tindakan Amerika Serikat tersebut merupakan bentuk pembajakan maritim yang ilegal. Mereka menegaskan bahwa jika keamanan pelabuhan-pelabuhan Iran terganggu, maka tidak ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman dari balasan Iran. Hingga saat ini, belum ada negara Eropa yang menyatakan kesediaan untuk membantu Trump dalam upaya pemberlakuan blokade laut tersebut.
Merespons ketegangan yang meningkat, Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pembicaraan telepon dengan Menlu Pakistan Muhammad Ishaq Dar menggambarkan situasi gencatan senjata saat ini sebagai kondisi yang “sangat rapuh”. China mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan upaya diplomasi dan menentang segala tindakan yang dapat merusak gencatan senjata yang telah susah payah dicapai. Beijing menyatakan dukungannya terhadap peran Pakistan sebagai mediator dan menyerukan agar semua pihak menghindari eskalasi demi stabilitas kawasan Teluk. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menambahkan bahwa negosiasi merupakan satu-satunya jalan keluar untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan perdamaian di kawasan tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Press TV



